Menu Tutup
Aman Bersama Tuhan
Waktu kita merasa kuatir, seringkali yang jadi fokus pikiran kita adalah kekuatiran itu sendiri. Kita tenggelam dalam kekuatiran dan pandangan kita akan solusi itu menjadi kabur. Bahkan yang paling parah, pandangan kita terhadap Tuhan juga bisa ikut menjadi kabur. Karena itu firmanTuhan mengingatkan kita, “Jangan engkau kuatir.”

Oleh: Sdri. Ribka Eleazar

Nats Alkitab: Matius 6:31-34

6:31Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
6:32Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
6:33Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Jika kita melihat bangsa kita saat ini, situasinya sedang tidak baik. Corona masih mewabah, pasien positif dan pasien yang meninggal juga terus bertambah, dan kita tidak tahu apakah akan terus bertambah atau tidak. Dari sisi ekonomi, ada banyak orang yang tidak bisa bekerja karena keadaan yang pastinya memengaruhi penghasilan mereka. Kurs rupiah juga ikut merosot. Pemerintah masih terus berjuang untuk tetap menstabilkan ekonomi negara. Kita melihat, ada banyak hal yang terjadi yang menunjukkan situasi yang menguatirkan bangsa, tidak baik.

Bagaimana dengan kita? Apa yang kita rasakan sebagai bagian dari bangsa yang sedang mengalami situasi yang genting? Mungkinkah kita juga ikut merasa gentar, atau mungkin ada menganggap ini keadaan yang biasa-biasa saja? Kenyataannya situasi saat ini membuat kita semua tidak nyaman, baik dalam pekerjaan, kesehatan, bahkan interaksi kita satu sama lain juga ikut dibatasi. Mungkin juga ada yang bertanya-tanya, sampai kapan situasi ini akan berlangsung? Lalu muncul kekuatiran terhadap berbagai hal yang mungkin terjadi, apakah situasi ini juga akan mempengaruhi hidup kita, entah kekuatiran akan mengalami krisis ekonomi, terhadap kesehatan kita. Bagaimana dengan keluarga – orang tua anak suami istri yang jauh dari kita, apakah mereka baik-baik saja? Hidup menjadi gelisah, ada rasa tidak aman, kuatir. Tetapi firman Tuhan berkata, “Jangan engkau kuatir.” Saya mengajak kita untuk melihat bagian firman Tuhan dari Matius 6:31-34.

Waktu kita merasa kuatir, seringkali yang jadi fokus pikiran kita adalah kekuatiran itu sendiri. Kita tenggelam dalam kekuatiran dan pandangan kita akan solusi itu menjadi kabur. Bahkan yang paling parah, pandangan kita terhadap Tuhan juga bisa ikut menjadi kabur. Karena itu firmanTuhan mengingatkan kita, “Jangan engkau kuatir.” Tuhan meminta kita untuk memandang burung yang dilangit, yang tidak menabur menuai tapi tetap bisa makan, bunga bakung di ladang yang tanpa bekerja tapi tumbuh bahkan indah melebihi semua pakaian Salomo.

Apalagi kita yang lebih daripada burung dan bunga bakung, Tuhan juga pasti mengingat dan memelihara hidup kita. Jadi jangan fokus pada kekuatiran, pada apa yang belum tentu terjadi pada hidup kita. Orang yang merasa kuatir berarti merasa tidak aman, dan ingatlah, keamanan hidup kita tidak diukur dari sehat sakit, kaya miskin, bukan diukur dari hal-hal duniawi, tetapi mari kita menempatkan keamanan hidup dalam tangan Bapa yang berjanji akan menyertai hidup kita. Di ayat ke-32 dikatakan, “Bapa di Sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Memang kita bisa kuatir, sangat manusiawi, tetapi ingatlah bahwa Tuhan kita berkuasa atas segala sesuatu termasuk mengetahui apa yang kita kuatirkan, yang kita butuhkan dan perlukan.

Sekali lagi, jangan fokus pada kekuatiran hidup. Tetapi fokuslah pada apa yang dikehendaki oleh Tuhan, yaitu di ayat ke-33, “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” Berusaha untuk hidup benar dihadapan Allah dalam apa pun yang kita kerjakan, melakukan apa yang menjadi kehendak Allah sesuai dengan firman-Nya itulah bagian prioritas hidup kita bersama dengan Tuhan. Kita memperhatikan kehidupan pribadi kita bersama Tuhan, menyatakan kebenaran Allah dalam hidup kita, dan memuliakan Tuhan dihadapan dunia dengan menjadi berkat lewat apa yang bisa kita lakukan. Dalam situasi ini kita bisa berdoa, atau memberikan dana bantuan, dan melakukan apa yang dianjurkan oleh pemerintah untuk pemulihan yang lebih cepat bagi bangsa kita.

Jangan ragukan pemeliharaan Tuhan. Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang tidak akan membiarkan umat-Nya yang hidup sungguh-sungguh dihadapan-Nya. Jika engkau merasa takut, kuatir, akui itu dihadapan Tuhan. Orang percaya bukannya tidak pernah merasa kuatir, takut atau sedih. Tetapi dalam menghadapi kehidupan yang menggetarkan, orang percaya tahu kepada siapa ia mempercayakan hidupnya, yaitu kepada Tuhan yang ia kenal lebih besar daripada kekuatirannya.

Ingatlah, hidup kita dan dunia bisa bergejolak, tetapi Tuhan kita tetap selama-lamanya. Takut kuatir itu biasa, tetapi kita punya Tuhan yang luar biasa. Fisik kita bisa saja diisolasi, interaksi kita dengan orang lain bisa saja dibatasi, tetapi hati kita pada Tuhan tetap terkoneksi, itulah yang membuat hidup kita merasa aman-tidak kuatir karena percaya selalu ada Tuhan yang tetap berintervensi. Amin.

*Penulis adalah mahasiswa praktik setahun dari STT SAAT yang sedang tugas belajar dI GKKA INDONESIA Jemaat Balikpapan.
Sumber : Sinode GKKA Indonesia
Hengky Tjia (Ketua Sinode)

Picture of Post oleh: GKKA Sendawar

Post oleh: GKKA Sendawar

Admin Media GKKA Indonesia Jemaat Sendawar

Disclaimer:
Beberapa bagian isi artikel di situs ini mungkin saja berasal dari berbagai sumber terbuka di internet, hak cipta sepenuhnya dimiliki oleh pemilik aslinya. Proses keberatan silahkan hubungi kami untuk penghapusan atau atribusi yang sesuai.

Kolom Komentar!

Berkomentar sesuai Pedoman Kami

Artikel Terbaru

Menemukan Sauh di Tengah Badai, Alarm Kuat untuk Berdiri Teguh

Dunia berguncang oleh perang, krisis, dan bencana. Ini adalah “alarm rohani” untuk berhenti mengandalkan dunia dan kembali pada Kristus. Saatnya koreksi diri: jangan biarkan cemas menenggelamkan iman. Bangkitlah, angkat mukamu, dan jadilah terang di tengah badai. Harapan sejati hanya ada dalam Tuhan

Pancasila dan Iman Kristen, Menjalin Harmoni dalam Keberagaman

Pancasila dan Iman Kristen memiliki titik temu dalam nilai universal. Sila-silanya selaras dengan ajaran kasih, keadilan, dan persatuan dalam Alkitab. Semangat pancasila diperkuat oleh konsep Tubuh Kristus yang berbeda tapi satu. Kita dipanggil menjadi garam & terang, mewujudkan harmoni di Indonesia

Kenaikan Yesus Kristus – Janji, Kuasa, dan Harapan

Hari Kenaikan Yesus Kristus adalah salah satu momen penting dalam kalender kekristenan. Ini bukan hanya sebuah peristiwa sejarah yang mengisahkan bagaimana Yesus terangkat ke surga 40 hari setelah kebangkitan-Nya, melainkan juga menjadi tanda penggenapan janji, pernyataan kuasa, dan peneguhan pengharapan bagi umat percaya di sepanjang zaman.

Kenaikan Yesus Kristus Merupakan Mahkota Harapan dan Kuasa Roh

Kisah Kenaikan Yesus Kristus tercatat jelas di Alkitab. Peristiwa ini bukan akhir, melainkan awal kuasa Roh Kudus, pemuliaan Yesus sebagai Imam Besar kita, dan jaminan kedatangan-Nya kembali. Renungan ini akan mengajak kita merenungkan bagaimana Kenaikan Yesus relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Buat tulisan Anda sendiri seperti Artikel, Kesaksian, Renungan Rohani, Khotbah, Berita dan lain sebagainya.

“Karena kamu menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan selalu abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”.
— Pramoedya Ananta Toer
Menulis
Pilih dan Bagikan Pengalamanmu
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email