Menu Tutup
Humor : Masalah Besar
Anak itu melihat ke bawah meja, ke sudut ruangan, dan ke seluruh penjuru tempat, tetapi dengan diam seribu kata. Sekali lagi dengan suara keras Pendeta menunjuk ke arah anak itu dan bertanya: "Di mana Tuhan?"

Di suatu daerah perumahan di pinggir kota, tinggallah dua orang kakak beradik, umur 13 dan 15 tahun.

Kedua anak itu terkenal dengan kenakalannya yang luar biasa. Mereka terkenal sebagai pencuri ulung. Kalau ada sesuatu yang hilang di lingkungan perumahan, pastilah karena ulah mereka.

Kedua orang tua anak ini betul-betul sudah kewalahan dan tidak sanggup lagi menangani mereka. Ketika mendengar ada seorang Pendeta yang sering menangani kasus anak nakal, maka ibunya segera berdiskusi dengan suaminya agar supaya Pendeta itu dapat berbicara dengan kedua anak mereka. Dan Suaminya langsung saja setuju:

“Cepat lakukan sebelum aku menghajar sampai mampus anak-anak bejat itu!” Kata Ayah mereka.
Ibunya segera pergi kepada Pendeta dan menceritakan semuanya dengan lengkap.

Pak Pendeta setuju, dan meminta supaya ia bisa berbicara terlebih dahulu dengan anak yang berumur 13 tahun empat mata.

Maka dikirimlah anak itu kepada pak Pendeta.

Bertemulah mereka. pak Pendeta duduk di belakang meja yang sangat besar dan berhadapan dengan anak nakal itu. Selama 5 menit pertama mereka hanya duduk berhadapan dan saling menatap satu dengan yang lain. Tapi akhirnya, Pendeta menunjuk dengan jari telunjuknya persis ke muka anak itu, dan bertanya:

“Di mana Tuhan?”

Anak itu melihat ke bawah meja, ke sudut ruangan, dan ke seluruh penjuru tempat, tetapi dengan diam seribu kata. Sekali lagi dengan suara keras Pendeta menunjuk ke arah anak itu dan bertanya:

“Di mana Tuhan?”

Lagi-lagi anak itu mencoba melihat ke seluruh ruangan dan tetap tidak berbicara apa-apa. Untuk ketiga kalinya, dengan suara yang lebih keras dan tajam, Pendeta menunjuk jari telunjuknya tepat di depan hidung anak itu, dan bertanya:

“Di mana Tuhan?”

Anak itu menjadi panik, lalu lari tunggang langgang dengan cepat pulang ke rumah. Ketika bertemu dengan kakaknya, ia cepat-cepat menarik kakaknya ke gudang, tempat dimana mereka biasa merencanakan akal busuk mereka.

Lalu adiknya berkata dengan panik : “Wah, celaka, Kak, kita ada dalam masalah besar!”

Kakaknya bertanya: “Apa maksudmu kita ada dalam masalah besar?”

Anak itu menjawab: “Kayaknya Tuhan hilang, dan mereka pikir kitalah yang mencurinya…!” 🙂 🙂 🙂

Picture of GKKA Jemaat Sendawar

GKKA Jemaat Sendawar

Admin Media GKKA Indonesia Jemaat Sendawar

Disclaimer:
Beberapa bagian isi artikel di situs ini mungkin saja berasal dari berbagai sumber terbuka di internet, hak cipta sepenuhnya dimiliki oleh pemilik aslinya. Proses keberatan silahkan hubungi kami untuk penghapusan atau atribusi yang sesuai.

Kolom Komentar!

Berkomentar sesuai Pedoman Kami

Artikel Terbaru

Berharap kepada Tuhan yang Memulihkan

Ketika kita berseru dalam doa, Tuhan tidak hanya mendengar tetapi juga siap memulihkan dan menyatakan perkara besar. Lewat Yeremia 33:3, Dia mengundang kita untuk datang dengan iman. Di tengah ketidakpastian, percayalah bahwa jawaban-Nya akan menyingkapkan jalan keluar luar biasa yang tak terpahami.

Tetap Setia sampai Garis Akhir

Kesetiaan sejati dibuktikan dengan bertahan menuntaskan misi kehidupan bersama Tuhan. Sesuai 2 Timotius 4:7, kita dipanggil untuk menyelesaikan pertandingan iman dengan tangguh hingga garis akhir. Jangan menyerah di tengah jalan; tetaplah memelihara iman dan integritas di dalam setiap prosesnya.

Memilih Hikmat dalam Setiap Langkah

Menemukan hikmat Tuhan berarti menemukan esensi kehidupan dan perkenanan-Nya. Berdasarkan Amsal 8:35, setiap keputusan yang diambil dengan hikmat akan menuntun kita pada jalan yang benar dan mendatangkan berkat. Mintalah selalu tuntunan-Nya agar setiap langkah kita selaras dengan kehendak Allah.

Memuliakan Tuhan dalam Setiap Keadaan

Pujian kepada Tuhan tidak boleh terhenti oleh situasi, melainkan harus terus dinaikkan setiap hari. Mazmur 96:2 mengajak kita untuk konsisten memuji nama-Nya dan giat membagikan kabar keselamatan. Saat kita bersaksi melalui perkataan dan perbuatan, kita sedang memuliakan Allah di setiap keadaan.

Tuhan Mampu Memakai Masa Sulit untuk Membentuk Kita

Masa-masa sulit sering kali menjadi alat di tangan Tuhan membentuk karakter kita. Yeremia 24:7, Dia berjanji memberikan hati yang baru untuk mengenal-Nya lebih lagi. Ujian hidup bukanlah tanda penolakan, tetapi cara Dia membawa kita kembali bertobat dengan segenap hati menjadi umat kesayangan-Nya.

Buat tulisan Anda sendiri seperti Artikel, Kesaksian, Renungan Rohani, Khotbah, Berita dan lain sebagainya.

“Karena kamu menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan selalu abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”.
— Pramoedya Ananta Toer
Menulis
Pilih dan Bagikan Pengalamanmu
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email

Pencarian

Baca Artikel Terbaru