Menu Tutup

Hati yang Terbakar (Kumpulan Karya Ekslusif) – Stephen Tong

Pdt. Dr. Stephen Tong adalah seorang penginjil besar dan pemimpin Kristen terkemuka pada zaman ini. Dengan semangat yang tak kunjung padam, beliau memperjuangkan kemurnian Iman Kristen dan memberitakan Injil dengan tekun dan setia, serta menjawab pertanyaan kaum intelektual yang sulit didapat dari sumber lain untuk menopang iman Kristen mereka.
Deskripsi Buku Hati yang Terbakar (Kumpulan Karya Ekslusif) – Stephen Tong
Penulis: Stephen Tong
ISBN : 9793292601
Penerbit : Momentum
Jml Halaman : 3381 Halaman
Dimensi : 14.00 x 21.00 cm

Dalam rangka memperingati HUT ke-50 pelayanan Pdt.Dr. Stephen Tong (1957-2007), Momentum menerbitkan kembali buku-buku beliau dalam suatu edisi koleksi, setelah melalui perbaikan bahasa dan tata letak.

Koleksi buku Hati Yang Terbakar (6 Jilid: 1a,1b,2,3,4,5) merupakan kumpulan atau kompilasi pemikiran-pemikiran dari Pdt. Dr. Stephen Tong.

Seluruh isi bagian buku ini dibagi menjadi lima kelompok :

  • Volume 1 merupakan seri Dogmatika : Dasar Iman Kita Bersama (Jilid 1a dan 1b),
  • Volume 2 merupakan seri Apologetika : Pembelaan Iman, Kebudayaan, dan Masyarakat,
  • Volume 3 merupakan seri keluarga dan pendidikan anak,
  • Volume 4 merupakan seri Kehidupan Kristen : Hidup Berkemenangan dan Berbuah, dan
  • Volume 5 merupakan seri Theologi Reformed Injili dan Pelayanan.

Kiranya warisan iman dan teladan pelayanan beliau yang sebagian telah tertuang dalam bentuk tulisan ini dapat terus memberi pengaruh positif kepada kita dan generasi mendatang.

Kutipan oleh Stephen Tong dari buku “Hati yang Terbakar” Vol. 1A (Surabaya: Momentum, 2014), hal. 6.

Adakah yang lebih penting daripada pengertian mengenai Allah? Adakah yang lebih berharga daripada pengenalan akan Allah? Mungkinkah seseorang menjadi manusia yang baik tanpa mengenal Allah? Dapatkah pemerintah suatu bangsa memerintah dengan baik tanpa pengertian akan Allah yang benar?

Augustinus, seorang bapa Gereja, pernah berkata, “Jikalau aku ditanya, ‘Apakah yang ingin kuketahui dalam dunia ini?’, maka aku akan menjawab, ‘Hanya dua hal yang ingin aku ketahui sedalam-dalamnya seumur hidupku, yang pertama, mengenal Allah, dan yang kedua, mengenal jiwa manusia.’ Dan jika aku ditanya lagi, ‘Adakah hal lain yang ingin kauketahui?’, maka aku akan menjawab, ‘Tidak ada, bahkan mutlak tidak ada lagi hal lain yang ingin aku ketahui.’ Aku ingin mengenal Allah, mengenal siapakah Dia?”

Pengenalan akan Allah ini begitu penting, karena: pertama, pengenalan akan Allah merupakan titik tolak bagi hikmat yang sejati. Pengenalan akan Allah menjadi dasar dari segala kepandaian di dalam dunia ini (bdk. Amsal 1:7; Mazmur 111:10). Kedua, pengenalan akan Allah muncul dari keinginan jiwa. Tetapi mengapa jiwa mempunyai keinginan seperti ini? Karena jiwa kita diciptakan menurut peta dan teladan Allah. Kalau demikian, siapakah aku? Aku mau mengenal diriku sendiri, mengenal jiwaku. Maka, mengenal Allah dan mengenal jiwa terkait satu dengan yang lain. Melalui pengenalan akan Allah, jiwa kita mempunyai suatu dasar, arah, prinsip hidup, dan hikmat yang sesungguhnya. Pengenalan akan Allah dan takut akan Allah merupakan suatu pangkal atau titik tolak dari segala kepandaian dan hikmat.

Kutipan oleh Stephen Tong dari buku “Hati yang Terbakar” Vol. 1A (Surabaya: Momentum, 2014), hal. 7-8.

Theologi berarti mengenal Allah, memahami, mengalami, serta hidup di dalam Dia. Theologi bukanlah sekadar suatu teori yang pernah terlintas di dalam rasio manusia, bukan sekadar pelajaran yang dipelajari melalui tulisan di atas kertas. Theologi adalah pengenalan akan Allah yang di dalamnya kita menghayati atau mengalami hidup yang sejati. Di dalam bertheologi, kita menjelajahi perkataan-perkataan, janji-janji, realitas, dan kesungguhan Allah sendiri. Di dalam bertheologi, kita juga menghayati cinta kasih-Nya kepada kita dan cinta kasih kita kepada-Nya. Dalam hal ini, Blaise Pascal, seorang filsuf, ahli matematika dan ahli fisika dari Prancis, berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengenal Allah lebih daripada cintanya kepada Allah.” Theologi tidak seharusnya hanya dimonopoli oleh seminari-seminari, sekolah-sekolah theologi atau sekolah-sekolah Alkitab, sekolah-sekolah yang melatih calon-calon pendeta, dan sejenisnya. Theologi hendaknya dimiliki oleh setiap orang Kristen, karena bertheologi merupakan hak setiap anak Tuhan, setiap orang yang mengenal Tuhan, agar mengetahui mengapa kita harus mengenal Tuhan dan bagaimana mengenal Dia dengan tepat. Kita tidak mempelajari theologi di dalam otak, tetapi menerjunkan diri ke dalam cinta Tuhan dan cinta kita kepada Tuhan. Sambil menikmati cinta-Nya, saat itu kita harus membalas cinta-Nya dengan cinta yang diberikan oleh Dia kepada kita. Itulah theologi.

Kutipan Stephen Tong dari buku “Hati yang Terbakar” (Surabaya: Momentum, 2014), hal. 41.

Ada bantahan yang mengatakan bahwa hal itu [penggunaan kata “Kita” dalam Kejadian 1:26] merupakan sesuatu yang umum dalam pembentukan bahasa-bahasa di Timur Tengah. Pada waktu mereka menyebut dewa atau ilah mereka, mereka juga tidak pernah memakai bentuk tunggal, melainkan bentuk jamak, sebagai indikasi yang menunjukkan penghormatan mereka terhadap yang harus lebih dihormati daripada manusia, yaitu dewa atau ilah mereka. (Di daerah-daerah tertentu di Indonesia, penggunaan kata kita atau kami juga sering dipakai sebagai kata ganti orang dalam pengertian tunggal.) Hal ini memang benar, namun bukan berarti kita bisa menyangkal bahwa Allah telah menyatakan diri dengan cara yang berbeda dari cara bangsa-bangsa lain dalam menyebut dewa-dewa mereka. Lagi pula, kebiasaan menyebutkan dewa atau ilah mereka dengan bentuk jamak ini baru muncul jauh sesudah Kitab Kejadian dituliskan melalui Musa.

Kutipan oleh Stephen Tong dari buku “Hati yang Terbakar” Vol. 1A (Surabaya: Momentum, 2014), hal. 15-16.

Kebudayaan Yunani dan Ibrani  merupakan dua sumber yang menjadi fondasi pembentukan seluruh kebudayaan Barat dan seluruh pengembangannya. Dari kebudayaan Ibrani, dunia Barat menemukan iman; dari kebudayaan Yunani, mereka menemukan rasio; dan keduanya saling bertentangan di sepanjang abad dalam sejarah. Di dalam sumber yang pertama, yaitu sistem kepercayaan orang Ibrani, yang merupakan wujud kekaguman terhadap apa yang diberikan melalui wahyu Allah, mereka melihat fakta yang tidak dapat mereka tolak, dan mereka hanya dapat menerimanya, dan pada akhirnya memuji dan berbakti kepada Allah. Dari sumber yang kedua, yaitu sistem berpikir (filsafat) orang Yunani, mereka didorong untuk menyelidiki dan menganalisis, serta mencatat penemuan-penemuan mereka secara sistematis, sehingga mengakibatkan terjadinya perkembangan dan pengetahuan di dunia Barat. Sebenarnya, keduanya bersumber dari Allah sendiri. Kalau orang Yunani menggali pengertian dari wahyu umum (dalam alam), maka orang Ibrani menerima wahyu khusus (dalam Alkitab); jika keduanya digabung menjadi satu, maka kita akan mengetahui bagaimana menggunakan rasio dengan sebaik-baiknya dan sesudah itu mengetahui bagaimana memuji Allah. Ketimpangan akan terjadi jika kita memuji Allah tanpa mengerti apa-apa, tanpa menyelidiki atau mempelajari doktrin, percaya tanpa pengertian yang benar. Yang sebaliknya juga akan timpang, yakni jika kita hanya mempelajari segala doktrin tanpa mengenal Allah, dan tidak percaya kepada wahyu Allah. Dua pola ini merupakan pola dari banyak orang Kristen pada saat ini. Banyak orang Kristen yang belajar dan belajar terus, bahkan belajar theologi, tetapi pada akhirnya tidak percaya kepada Allah, tidak percaya akan wahyu Allah, karena mereka menjadikan Alkitab sebagai objek rasio mereka. Golongan lainnya menolak segala pemikiran theologi, yang dianggap mematikan iman, dan hanya mementingkan memuji Tuhan tanpa mengerti secara benar wahyu Allah.

Kutipan oleh Stephen Tong dari buku “Hati yang Terbakar” Vol. 1A (Surabaya: Momentum, 2014), hal. 12-13.

…tidak mungkin Allah Tritunggal dimengerti sepenuhnya oleh rasio manusia, karena Allah adalah Allah yang tidak terbatas, sedangkan manusia sangat terbatas. Memang, doktrin Allah Tritunggal adalah doktrin yang paling sulit dimengerti, paling sulit dijelaskan, paling sulit diterima, paling sulit dipercaya, paling sulit diungkapkan dengan kata-kata atau istilah-istilah manusia. Doktrin ini bagaikan doktrin yang tidak dapat harmonis dengan rasio manusia. Namun, apakah karena sedemikian sulit, lalu kita tidak perlu mengajarkannya atau tidak perlu mengabarkannya? Tidak! Walaupun doktrin ini sulit, tidak berarti kita tidak perlu mengerti, tidak berarti kita tidak perlu menjelaskan, tidak berarti kita tidak perlu percaya, tidak berarti kita tidak perlu memakai rasio untuk memikirkan. Prinsip theologi Reformed yang saya pegang dengan teguh menyatakan bahwa orang Kristen bukanlah seorang rasionalis, tetapi orang Kristen harus menjadi orang yang rasional. Maksudnya, rasio kita tidak mungkin mencapai keseluruhan pengetahuan firman, tetapi rasio kita harus dipergunakan secara maksimal untuk mengerti firman Tuhan. Meskipun kita tidak mungkin mencapai pengetahuan yang sempurna karena kita bukan Allah, namun kita harus semaksimal mungkin mendayagunakan segala sarana yang diciptakan Tuhan di dalam diri kita untuk mengenal firman Allah.

Apa perbedaan istilah “rasional” dan “rasionalis”? Rasional berarti seseorang yang menggunakan fungsi rasionya secara maksimal tanpa memperilah rasionya sebagai sesuatu yang mutlak, dengan perkataan lain, dia tidak memutlakkan rasionya. Sedangkan seorang rasionalis ialah orang yang menjadikan rasionya sebagai ukuran untuk mengerti segala sesuatu. Dengan perkataan lain, rasionalis adalah seorang yang memutlakkan rasionya. Kita menolak pandangan rasionalis karena kita sadar bahwa rasio hanyalah ciptaan yang terbatas dari Allah.

Beli Buku
Judul : Hati yang Terbakar (Kumpulan Karya Ekslusif)
Penulis : Stephen Tong
Kutipan oleh Stephen Tong dari buku “Hati yang Terbakar” Vol. 1A (Surabaya: Momentum, 2014), hal. 6. Adakah yang lebih penting daripada pengertian mengenai Allah? Adakah yang lebih berharga daripada pengenalan akan Allah? Mungkinkah seseorang menjadi manusia yang baik tanpa mengenal Allah? Dapatkah pemerintah suatu bangsa memerintah dengan baik tanpa pengertian akan Allah yang benar?
Pilih dan Bagikan Pengalamanmu
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email