Judul Buku : Pendidikan Kristen
Penulis : Pdt. Ferry Yang, Ph. D
Penerbit : Momentum
Cover Design : Softcover
Ukuran : 23,5×15,5 cm
Tipe : Kristen & Katolik
Bahasa : Indonesia
Penulis Resensi : Neno Anderias Salukh
Sumber : Kompasiana
Jika sekarang anda sedang mendidik orang lain dan akan mendidik orang lain di suatu waktu maka bacalah buku ini (Pendidikan Kristen). Saya jamin buku ini membentuk kualitas anda sebagai seorang pendidik.
Pdt. Ferry Yang bergelut cukup lama dalam dunia pendidikan. Ia melihat sekolah-sekolah dan universitas-universitas Kristen adalah hal yang sama terjadi di sekolah-sekolah dan universitas-universitas non-Kristen yaitu seperti mencontek, perkelahian, guru-guru yang agak porno, hukum-hukum yang tidak manusia, perpeloncoan, menitip absen, meniru tanda tangan dan sebagainya.
Pelajaran yang diajarkan pun sama, tidak ada bedanya. Lalu apa yang beda dari Pendidikan Kristen? Pertanyaan inilah yang membuat Pdt. Ferry menulis tentang Pendidikan Kristen yang sebenarnya. Buku ini baru diterbitkan oleh Penerbit Momentum pada juli 2018 dengan ketebalan 332 halaman.
Pdt. Ferry mengawali tulisannya dengan analogi pendidikan menurut Plato yang sangat berpengaruh sampai detik saat ini. Namun, Pdt. Ferry menegaskan bahwa Pendidikan Kristen lebih besar dan lebih dari analogi pendidikan menurut Plato. Pendidikan Kristen adalah memimpin orang keluar dari kegelapan menuju terang dan hidup yang kekal. Pendidikan Kristen memiliki suatu sistem dimana kita sebagai pendidik Kristen memilki tujuan atau target pencapain yaitu Transformasi total dari manusia berdosa sehingga mereka boleh menjadi manusia kudus dari Allah.
Tujuan Pendidikan Kristen yang sebenarnya adalah “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku”. So, tujuan Pendidikan Kristen adalah menjadikan semua bangsa menjadi murid Yesus bukan murid-murid dari murid Yesus yang akhirnya terjadi suatu Transformasi total dari mereka yang berdosa sehingga mereka boleh menjadi manusia kudus dari Allah sebagaimana tujuan seorang pendidik Kristen.
Namun, seringkali bahkan sudah terdoktrin dalam setiap pribadi bahwa pendidikan itu adalah urusan sekolah dan diserahkan sepenuhnya kepada sekolah padahal sekolah memiliki keterbatasan yang sangat besar.
Anak-anak diserahkan sepenuhnya ke sekolah dengan harapan anak-anak diajarkan segala macam hal baik sedangkan kita tidak melakukan itu.
Di dalam buku ini, Pdt. Ferry memasukan pendapat Ivan Illich bahwa masyarakat harus dibebaskan dari struktur sekolah karena sekolah sudah semakin menguat sehingga manusia tidak dapat hidup tanpa sekolah.
Sekolah sudah menjadi kebutuhan pokok. Kita tidak tau sekolah itu beres atau tidak apalagi iklim toleransi yang sangat tinggi di Indonesia sudah terkombinasi dalam sistem pendidikan di sekolah. Tidak lulus jadi lulus, tidak naik kelas jadi naik kelas dan masih banyal lagi. Jika ada sekolah-sekolah Kristen yang menoleransi hal-hal tidak benar lebih baik tutup karena sekolah sudah merusak banyak orang.
Nah, Bagaimana dengan Pendidikan Kristen yang adalah pendidikan holistik. Jadi bagaimana kita bisa memikirkan pendidikan yang sifatnya holistik kalau kita menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah? Lalu menuntut agar sekolah bisa mengajarkan semua yang kita harapakan? Maka disanalah terjadi kegagalan pendidikan yang luar biasa.So, kita tidak bisa dengan mudah menyerahkan tugas dan tanggungjawab yang sudah Tuhan berikan kepada kita secara natural kepada sekolah lalu menuntut sekolah harus mendidik anak kita sampai lulus dan menjadi seorang Kristen yang baik
Dari hal-hal tersebut di atas, Pdt, Ferry menyerukan supaya kita semua takut akan Tuhan dalam mendirikan sebuah sekolah ataupun menjadi pendidik Kristen yang menjalankan Pendidkan Kristen bahkan ketika menjadi orang tua yang mendidik anak-anak kita.
Mengapa takut akan Tuhan? Karena pendidikan yang asli itu datangnya dari Tuhan. Pendidikan diinisiasi oleh Tuhan itu sendiri sehingga Pendidkan Kristen yang benar adalah pendidkan yang tunduk dibawah hukum Tuhan. Pengakuan akan Tuhan dan kekuasaan-Nya merupakan starting point pendidikan yang benar. Takut akan Tuhan menuntun manusia ke pengertian yang sejati.
Pendidikan Kristen juga berdasarkan pada penyataan “Tuhan itu esa dan satu-satunya”. Tanpa prisip dasar ini maka wawasan dan pengetahuan manusia tidak menuju pada kebenaran. Kunci penyataan “Tuhan itu esa dan satu-satunya” adalah Iman. Dari Iman inilah arah kehidupan yang sejati menjadi jelas. Dari iman ini, manusia kembali pada hakikatnya sebagai makhluk yang diciptakan (creation) oleh Allah yang diberi kemampuan untuk menyembah Pencipta (Creator). Melalui iman tersebut, pendidikan yang sejati boleh dikerjakan sesuai dengan kehendak Allah.
Setelah kita ketahui penyataan “Tuhan itu esa dan satu-satunya” maka mengasihi Allah itu adalah langkah selanjutnya sesuai dengan perkataan Firman Tuhan bahwa “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Ini adalah perintah yang abstrak untuk dipahami. Maksudnya disini adalah mengasihi Allah dengan level kasih Agape yang merupakan level kasih paling tinggi dalam ajaran kekristenan. Didalam kasih agape ini, ada konsep kelekatan, keberserahan, dan Vouluntary Giving Everything. Namun, realitanya dalam perkembangan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, mengasihi Allah diabaikan dan menggunakan prinsip-prinsip pendidikan yang dikonsep oleh John Dewey yaitu konsep pendidikan tidak bertuhan. Prinsip-prinsip dari John Dewey ini sudah menjelajah dunia pendidikan sekuler diseluruh dunia.
Di sekolah sekolah banyak mengajarkan Teori Evolusi yang mana dalam teori ini, Tuhan sama sekali diabaikan. Banyak anak-anak dari TK-PT diajarkan mengenai teori ini, mereka diajarkan mempercayai Tuhan tidak ada. Jika prinsip ini dijadikan sebagai landasan dalam setiap generasi muda maka kita jangan heran jika suatu saat walaupun mereka dibesarkan dalam lingkungan dan keluarga Kristen, mereka sebetulnya adalah atheis-atheis praktis yang seluruh hidupnya tidak berfondasi pada Tuhan yang menciptakan alam semesta.
Kita harus memikirkan hal ini dengan baik dan sangat serius supaya kita d
apat menjalankan prinsip-prinsip Pendidikan Kristen dengan lebih baik dan sesuai dengan Alkitab. Nah, ini sebenarnya adalah tanggungjawab orang tua. Hal ini didasarkan pada Kitab Ulangan 6:5-9 karena pendidikan itu bukan soal kita bicara atau mengatakan kalimat-kalimat tertentu atau mengajar dikelas saja, tetapi jauh lebih penting adalah bagaiamana seorang pengajar yang berada pada posisi berotoritas dan diidolakan boleh menghidupi kehidiupan yang benar. Jadi, jangan abaikan pendidikan di rumah. Jangan berpikir anak disekolahkan di sekolah ternama dan dengan harapan anak lulus dengan karakter baik. Maaf, banyak yang seperti itu, dan anak-anaknya keluar jadi penjahat.
Seorang guru atau orang tua Kristen yang memiliki fungsi untuk mendidik anak-anak, perlu diingat bahwa pendidikan atau pengajaran bukan sekedar aktivitas mengatakan sesuatu tapi pendidikan dan pengajaran adalah suatu modeling dimana guru atau orang tua Kristen menjadi model/contoh/teladan bagi anak-anak.
Nah, dalam mendidik atau menjadi model bagi anak-anak harus hal-hal yang patut baginya berdasarkan Amsal 22:6. Namun, sebelum masuk dalam hal ini, manusia harus mengenal dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan sehingga dalam pengajaran harus berdasarkan Takut akan Tuhan. Inilah permulaan pengetahuan. Ini yang harus menjadi fondasi dalam mendidik anak-anak. Belajar mengenal dan takut akan Tuhan haruslah menjadi landasan pengetahuan. Inilah pendidikan yang benar. Jika pendidikan tidak kembali pada prinsip yang benar ini maka kita justru mengirim anak-anak pada neraka.
Pdt. Ferry membahas khususnya Pendidikan Kristen dalam 9 (Bab 1-Bab 9) dan 5 Bab (Bab 10-14) membahas khusus bagaimana seharusnya menjadi guru yang sejati. Dalam bagian guru yang sejati, Pdt. Ferry menekankan bahwa God is The Master Teacher. Dia punya rahasia yang jauh melampaui kapasitas kita untuk bisa mengerti.
Maka kita harus rendah hati sebagai seorang guru dan mau belajar dari Tuhan, mau terus diajar oleh Tuhan, mau terus mendengarkan suara Tuhan untuk mengerti isi hati-Nya melalui firman Tuhan. Sehebat apapun manusia, ia tidak lebih hebat dari Tuhan maka kita harus mengajar murid-murid kita untuk rendah hati.
Setelah belajar dari The Master Teacher, kita harus menjadi guru yang dijaga oleh kebenaran karena ketika seorang guru tidak mengajarkan kebenaran dan dia memiliki seluruh atribut yang sangat kuat serta karisma yang besar dan juga pengaruh yang sangat kuat maka ini sangat berbahaya. Secara natur, Manusia sebenarnya memiliki dorongan alamiah yang kuat untuk takut akan Tuhan. Tetapi orang-orang yang diberikan posisi untuk mendidik mereka untuk sungguh-sungguh takut akan Tuhan justru mengekploitasi mereka dan memimpin mereka menjauh dari Tuhan. Karena itu, Yesus katakan lebih baik lehernya diikatkan batu kilangan dan dibuang ke dasar laut daripada menyesatkan banyak orang.
Di dalam dunia pendidikan formal, secara khusus di Indonesia saat ini, banyak guru yang sembarangan, banyak guru dipaksa/terpaksa menjadi guru bahkan ada yang mau jadi guru tapi tidak mau jadi guru yang benar.
Ini masalah besar yang sebenarnya menjadi problem utama dunia pendidikan di Indonesia. Indonesia minim guru yang sungguh-sungguh jadi guru tetapi kaya operator teks di depan kelas.
Banyak orang yang punya kapasitas tapi tidak mau jadi guru, ini yang repot. Padahal kita butuh guru yang punya bobot yang pas dan negara atau institusi harus adil dan bertanggungjawab dengan kesejahteraan guru. Kebanyakan guru yang tidak sungguh-sungguh datang dari kesejahteraan yang tidak menjamin.
Bagaimana dengan kita yang sudah terlanjur sebagai guru. Lihat kembali motifasi anda, jika menyimpang, mohon ampun kepada Tuhan. Lalu minta hikmat dan kearifan kepada Tuhan untuk menjadi guru yang baik.
Setelah itu perlengkapi diri anda, banyak belajar tentang disiplin ilmu yang anda tekuni, banyak belajar bahasa inggris agar jurnal-jurnal terbaik bahasa inggris bisa menjadi bahan belajar. Berdoa dengan sungguh-sungguh meminta Tuhan memberi hikmat dan kebijaksanaan untuk belajar dengan baik melalui firman-Nya.
Kebenaran adalah Firman Tuhan. Guru harus menjaga kebenaran itu. Agar kebenaran tersebut tidak terdistorsi oleh perkembangan sains karena hampir tiap menit ada teori baru yang dibuat.
Di segala penjuru dunia, jutaan orang mengkonstruksi ide, atau yang dikenal sebagai pengetahuan. Pengetahuan merupakan hasil usaha penafsiran terhadap realitas, dan melalui refleksinya orang dapat menemukan kebenarannya sendiri. So, pengetahuan bukanlah kebenaran.
Nah, kebenaran harus dijaga dengan setia agar kebenaran tidak disingkarkan. Karena jika kebenaran disingkirkan maka, Firman Tuhan disingkirkan dan pasti Yesus disingkirkan.
Ketika manusia berusaha mrnyingkirkan Allah, menggeser Tuhan Yesus, dan membuang Firman Tuhan, maka manusia tidak akan menemukan kebenaran. Guru harus ada di garis depan untuk menjaga kebenaran dengan setia. Ini adalah tugas paling mulia seorang guru. Guru menjaga kebenaran supaya kebenaran tidak diperlakukan seenaknya oleh manusia.
Menjadi pendidik Kristen (Orang tua dan guru) sangatlah tidak mudah untuk kita secara konsisten menjalankan apa yang kita ajarkan sendiri untuk mengaplikasikan dalam kehidupan yang riil. Inilah tantangan terbesar pendidik Kristen.
Seringkali pilihan-pilihan berikutnya orang tidak mau untuk mengikut Tuhan atau takut akan Tuhan atau mencintai Tuhan. Dan justru akhirnya mereka berbalik dan menyangkali Tuhan.
Tetapi Tuhan Yesus teladan sampai titik darah yang terakhir, tidak ada satu kali pun Dia menyangkali Bapa-Nya. Tidak pernah satu kali pun Tuhan Yesus membatalkan rencana Bapa-Nya, walaupun seluruh hidup-Nya teramat sanagt susah dan menderita.
Pendidik Kristen jangan seperti banyak orang Kristen zaman sekarang adalah orang orang Kristen yang pengecut. Orang Kristen jenis ini hanya berani kalau ada massa. Orang Kristen jenis hanya berani kalau ada tawuran.
Orang Kristen yang hanya berani jika keroyokan, tetapi tidak berani di dalam dirinya sendiri berdiri lalu menyatakan bahwa dirinya berdiri demi memuliakan Tuhan, sehingga walaupun seluruh dunia tidak memuliakan Tuhan, dirinya tetap memilih untuk memuliakan Tuhan.
Penulis : Pdt. Ferry Yang, Ph. D




