Menu Tutup
Penderitaan Yesus di Getsemani
Dari Firman Tuhan Matius 26 : 36 – 46 Memaparkan kepada kita cerita yang menarik untuk direnungkan di bawah Tema: Penderitaan Yesus di Taman Getsemani. Apa saja Kebenaran yang terkandung di dalamnya?
Matius 26 : 36 – 46
Pdt. Nelson Neno, MA

Penderitaan dapat dialami karena dosa sendiri, oleh dosa orang tua, atau supaya pekerjaan Tuhan dinyatakan dan juga oleh bencana alam yang sekaligus dapat menyatakan kebesaran Kuasa Tuhan. Penderitaan juga dapat dialami oleh setiap orang kapan saja dan dimanapun selama di dunia ini. Penderitaan juga dapat dialami secara fisik, psikis dan Spiritual.

Tidak ada seorang manusia yang kebal dengan penderitaan. Saat ini dunia bahkan bangsa kita Indonesia pun tak luput dari Penderitaan yang disebabkan oleh CORONAVIRUS DISEASE 19 (COVID 19) yang mana ada yang menderita hingga meninggal, dan ada pula yang menderita namun sembuh atau pulih serta sedang dan sangat mengkuatirkan dunia saat ini.

Pertanyaan yang menjadi Perenungan bagi kita ialah Penderitaan apa yang dialami Tuhan Yesus di Taman Getsemani bagaimana sikap-Nya terhadap Penderitaan,sehingga dapat menjadi Kesaksian bagi Gereja Masa Kini?

Dari Firman Tuhan Matius 26 : 36 – 46 Memaparkan kepada kita cerita yang menarik untuk direnungkan di bawah Tema: Penderitaan Yesus di Taman Getsemani. Apa saja Kebenaran yang terkandung di dalamnya?

  1. Penderitaan yang diceritakan (Mat. 26:38)

(FAYH) Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Jiwa-Ku hancur karena sedih, sehingga akan mati rasanya. Tinggallah di sini. Berjagalah dengan Aku.”

Yesus merasa pasti bahwa sekarang kematian sudah ada di depan mata. Desah nafas kematian itu ada pada-Nya. Dalam keberadaan-Nya sebagai manusia, tentu saja Ia tidak ingin mati.

Tidak seorang pun ingin mati dalam usia muda, apalagi mati dalam penderitaan salib. Sebenarnya Peristiwa di Taman Getsemani yang dialami Oleh Tuhan Yesus adalah rangkaian dari Penggenapan Karya Penyelamatan yang harus dialami oleh Tuhan Yesus. Mengapa?

Dalam Injil Sinopsis Tuhan Yesus telah empat kali memberitahukan tentang Penderitaan yang akan dialami Tuhan Yesus yakni:

Pemberitahuan Pertama tentang Penderitaan Yesus Mat. 16:21; Mar. 8:31; Luk. 9:22; Pemberitahuan kedua tentang Penderitaan Yesus Mat. 17:22-23; Mar. 9:30-32; Luk. 9:43-45, Pemberitahuan ketiga tentang Penderitaan Yesus Mat. 20:17-19; Mar. 10:32-34; Luk.18:31- 34, Pemberitahuan keempat tentang Penderitaan Yesus Mark. 14:1-2, Luk. 22:1-2 dan Yoh. 11:45-53

Mat. 26:38 (FAYH) Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Jiwa-Ku hancur karena sedih, sehingga akan mati rasanya. Tinggallah di sini. Berjagalah dengan Aku.”

Pada ayat ini Tuhan Yesus menceritakan Penderitaan yang sedang dialami begitu luar biasa. Lukas mencatat bahwa Seorang Malaikat dari Langit menampakkan diri untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat Ketakutan.

Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Luk. 22:43-44). Di sini Yesus bergumul dengan hebat untuk menundukkan kehendak-Nya pada kehendak Allah. Tidak seorang pun dapat membaca kisah ini tanpa melihat realita yang intens dalam pergumulan itu.

Penderitaan yang dialami di Getsemani mencakup Penderitaan Spritual karena Dia yang dalam Keabadian-Nya rela datang ke dunia ini untuk menanggung penderitaan menggantikan manusia yang telah berdosa di hadapan Allah yang suci dan harus menanggung akibatnya.

Hal ini juga terjadi sebagai Penggenapan nubuatan nabi Yesaya. Yes. 53:4 (FAYH) ¶ Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Inilah Kebesaran Kuasa dan Kasih setia Allah kepada Manusia. Dan Penderitaan Fisik yang akan terjadi setelah Ia berdoa sampai kepada Kematian-Nya di salib.

  1. Sikap Yang Benar Terhadap Penderitaan (Mat. 26:36-46).

W.J. Thomas Seorang ahli psikologi memberi batasan bahwa: “Sikap adalah sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata atau pun yang mungkin akan terjadi dalam kegiatan- kegiatan sosial sosial”.

Dalam Matius 26:36-46 tidak hanya mengisahkan Penderitaan atau pergumulan yang dialami, tetapi juga bagaimana Tuhan Yesus menyikapi Pergumulan yang berat tersebut yakni:

Pertama, Ia memilih tempat yang tepat untuk bersekutu dengan Allah.

Ia pergi ke taman Getsemani (yang artinya “alat memeras minyak,” yang terletak di sebelah timur lembah Kidron), suatu tempat yang biasa dipakai-Nya untuk berdoa (bd. Yoh 18:1-2).

Kedua, Ia berdoa dan Tetap Berdoa.

Ketika Tuhan Yesus mengalami pergumulan yang berat, dalam keberadaan-Nya sebagai manusia, Ia berdoa. Ia bergumul dalam doa dengan begitu seriusnya, hingga keringat-Nya menetes seperti titik-titik darah.

Tentu Doa Tuhan Yesus bukan memohon Pengampunan dosa, tetapi sebagai ungkapan Pengenalan-Nya dengan Bapa sekaligus doa sebagai cara utama untuk membuat berbagai hal dapat terlaksana bagi Kemuliaan Tuhan dan menyatakan kesiapan untuk Taat melakukan kehendak Bapa.

Ketiga, Ia Melibatkan Rekan.

Murid yang sedang bersama Yesus sebelas orang dan Ia membawa mereka ke taman Getsemani. Delapan orang Ia minta duduk agak jauh, dan tiga orang dibawaNya ke dalam taman untuk berdoa.

Mereka diminta untuk berjaga- jaga dan berdoa. Tetapi sayang murid-murid-Nya tertidur karena kelelahan. Terlepas dari kelemahan murid-murid-Nya, dukungan rekan-rekan itu penting.

Persekutuan dan dukungan doa itu sangat penting. Tuhan Yesus ketika menghadapi pergumulan berat, Ia pun membutuhkan dukungan doa murid-murid-Nya dan mengajak mereka berdoa bersama.

Keempat, mengutamakan dan Taat kepada Kehendak Allah.

Dalam menghadapi pergumulan, Ia mengutamakan kehendak Allah. Ia berkata, “… tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Mat. 26:39). Kendatipun secara insani Tuhan Yesus menginginkan agar cawan itu berlalu dari-Nya, tetapi Ia tetap taat pada kehendak Allah. Tiga kali Tuhan Yesus berdoa dan mengucapkan doa yang sama (Mrk. 14:36,39).

Secara praktis kata-kata doa-Nya itu menandai titik kemenangan-Nya. Kemenangan-Nya di atas salib telah dimulai dalam doa di taman Getsemai. Setelah itu Ia pergi menuju ke Golgota dengan kemenangan dalam penderitaan, yakni siap untuk memikul salib menuju ke Golgota, sebab itu adalah jalan keselamatan bagi manusia berdosa yang dikasihi Allah.

Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari Kebenaran di atas yakni:

  1. Seluruh Umat Manusia pasti mengalami Penderitaan.
  2. Penderitaan dapat dialami karena dosa sendiri, karena dosa orang tua, atau supaya pekerjaan setan, bencana alam atau diijinkan Tuhan.
  3. Penderitaan Yesus bukanlah sebagai akibat dosa-Nya tetapi Ia menanggung dosa menggantikan umat manusia yang percaya kepada-Nya.
  4. Bersyukur dan tetaplah percaya kepada Tuhan Yesus
  5. Kala Menghadapi Penderitaan:
  • Peliharalah Hubungan dengan TUHAN melaui DOA
  • Mohon Pengampunan dari TUHAN
  • Mohon Kekuatan Untuk tetap taat dan Mengutamakan TUHAN
  • Libatkan Saudara seiman.
HAMBATAN-HAMBATAN:
  1. Diri sendiri yang tidak siap menderita, kenyamanan hidup
  2. Pihak lain: Orang Lain dan Pengajaran yang menyeesatkan.
  3. Pekerjaan Iblis yang menimbulkan penderitaan kepada Umat TUHAN agar tidak mempercayai jani-janji TUHAN.

KIRANYA OLEH ANUGERAH TUHAN,
KITA DIMAMPUKAN UNTUK MENANG ATAS SETIAP RINTANGAN
DAN TETAP TAAT MENJALANKAN KEHENDAK TUHAN PADA SEGALA KEADAAN


Picture of Post oleh: Pdt. Nelson Neno, M.Th

Post oleh: Pdt. Nelson Neno, M.Th

Gembala Sidang GKKA Indonesia Jemaat Sendawar

Disclaimer:
Beberapa bagian isi artikel di situs ini mungkin saja berasal dari berbagai sumber terbuka di internet, hak cipta sepenuhnya dimiliki oleh pemilik aslinya. Proses keberatan silahkan hubungi kami untuk penghapusan atau atribusi yang sesuai.

Kolom Komentar!

Berkomentar sesuai Pedoman Kami

Artikel Terbaru

Menemukan Sauh di Tengah Badai, Alarm Kuat untuk Berdiri Teguh

Dunia berguncang oleh perang, krisis, dan bencana. Ini adalah “alarm rohani” untuk berhenti mengandalkan dunia dan kembali pada Kristus. Saatnya koreksi diri: jangan biarkan cemas menenggelamkan iman. Bangkitlah, angkat mukamu, dan jadilah terang di tengah badai. Harapan sejati hanya ada dalam Tuhan

Pancasila dan Iman Kristen, Menjalin Harmoni dalam Keberagaman

Pancasila dan Iman Kristen memiliki titik temu dalam nilai universal. Sila-silanya selaras dengan ajaran kasih, keadilan, dan persatuan dalam Alkitab. Semangat pancasila diperkuat oleh konsep Tubuh Kristus yang berbeda tapi satu. Kita dipanggil menjadi garam & terang, mewujudkan harmoni di Indonesia

Kenaikan Yesus Kristus – Janji, Kuasa, dan Harapan

Hari Kenaikan Yesus Kristus adalah salah satu momen penting dalam kalender kekristenan. Ini bukan hanya sebuah peristiwa sejarah yang mengisahkan bagaimana Yesus terangkat ke surga 40 hari setelah kebangkitan-Nya, melainkan juga menjadi tanda penggenapan janji, pernyataan kuasa, dan peneguhan pengharapan bagi umat percaya di sepanjang zaman.

Kenaikan Yesus Kristus Merupakan Mahkota Harapan dan Kuasa Roh

Kisah Kenaikan Yesus Kristus tercatat jelas di Alkitab. Peristiwa ini bukan akhir, melainkan awal kuasa Roh Kudus, pemuliaan Yesus sebagai Imam Besar kita, dan jaminan kedatangan-Nya kembali. Renungan ini akan mengajak kita merenungkan bagaimana Kenaikan Yesus relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Buat tulisan Anda sendiri seperti Artikel, Kesaksian, Renungan Rohani, Khotbah, Berita dan lain sebagainya.

“Karena kamu menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan selalu abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”.
— Pramoedya Ananta Toer
Menulis
Pilih dan Bagikan Pengalamanmu
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email