Mazmur 96:2 (TB) “Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.”
Mazmur 96 adalah ajakan untuk memuji Tuhan dan memberitakan kebesaran-Nya. Pemazmur tidak hanya mengajak umat Tuhan untuk bernyanyi, tetapi juga untuk menceritakan karya keselamatan dan kemuliaan Tuhan kepada orang lain.
Sering kali kita lebih mudah memuji Tuhan ketika keadaan sedang baik. Ketika doa terjawab, pekerjaan berjalan lancar, keluarga dalam keadaan sehat, dan segala sesuatu sesuai harapan, hati kita lebih mudah bersyukur.
Namun Mazmur 96 mengajarkan bahwa Tuhan layak dipuji bukan hanya karena apa yang kita terima, tetapi karena siapa Dia. Tuhan tetap besar, kudus, setia, dan berkuasa dalam segala keadaan.
Karena itu, pujian tidak seharusnya bergantung pada situasi hidup kita. Pujian adalah respons hati yang menyadari bahwa Tuhan tetap layak dimuliakan.
Mazmur ini juga berkata agar kita memberitakan keselamatan Tuhan dari hari ke hari. Artinya, kehidupan kita seharusnya menjadi kesaksian tentang kebaikan Tuhan.
Kesaksian tidak selalu harus berupa cerita yang luar biasa. Sikap bersyukur, kejujuran dalam bekerja, kasih kepada sesama, dan ketenangan di tengah masalah juga dapat menunjukkan bahwa kita percaya kepada Tuhan.
Pada bagian akhir, seluruh ciptaan digambarkan bersukacita karena Tuhan datang untuk menghakimi dunia dengan keadilan dan kebenaran. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tetap memegang kendali.
Meskipun dunia sering terlihat tidak adil dan penuh ketidakpastian, Tuhan tidak kehilangan kuasa-Nya.
Hari ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hidup kita sudah membawa kemuliaan bagi Tuhan? Apakah orang lain dapat melihat kebaikan Tuhan melalui sikap dan tindakan kita?
Jangan hanya memuji Tuhan ketika hidup berjalan sesuai keinginan. Tetaplah bersyukur, ceritakan kebaikan-Nya, dan hiduplah dengan cara yang memuliakan nama-Nya. Sebab Tuhan tetap layak dipuji dalam setiap musim kehidupan.
“Allah tetap layak menerima pujian kita, bukan karena kehidupan selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi karena karakter-Nya tidak pernah berubah.” — John Stott





