Yeremia 24:7 (TB) “Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya.”
Yeremia 24 menceritakan penglihatan tentang dua keranjang buah ara. Satu keranjang berisi buah ara yang sangat baik, sedangkan keranjang lainnya berisi buah ara yang sangat buruk dan tidak dapat dimakan.
Melalui penglihatan ini, Tuhan menunjukkan bahwa orang-orang yang sedang mengalami pembuangan tidak selalu berarti telah ditinggalkan oleh-Nya.
Justru Tuhan berkata bahwa Ia akan memperhatikan mereka untuk kebaikan, membangun mereka kembali, dan memberikan hati yang sungguh-sungguh mengenal-Nya.
Ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh terlalu cepat menilai keadaan hanya dari apa yang terlihat. Sesuatu yang terasa seperti kehilangan, kegagalan, atau masa sulit belum tentu berarti Tuhan berhenti bekerja.
Bisa jadi justru melalui keadaan tersebut Tuhan sedang membentuk karakter, memperbaiki hati, dan membawa kita kembali kepada-Nya.
Sering kali kita lebih fokus meminta Tuhan mengubah keadaan, tetapi Tuhan juga ingin mengubah hati kita.
Yeremia 24:7 menunjukkan bahwa salah satu karya terbesar Tuhan adalah memberikan hati yang mengenal-Nya dan mau kembali kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.
Dalam kehidupan, masa sulit dapat membuka banyak hal yang sebelumnya tidak kita sadari. Kita mulai melihat apa yang selama ini terlalu kita andalkan, apa yang perlu diperbaiki, dan seberapa besar kita membutuhkan Tuhan.
Namun firman ini juga menjadi peringatan agar kita tidak mengeraskan hati. Ada orang yang mengalami kesulitan tetapi tidak berubah, tidak mau belajar, dan tetap berjalan dalam ketidaktaatan.
Karena itu, yang terpenting bukan hanya apa yang kita alami, tetapi bagaimana kita merespons Tuhan di tengah keadaan tersebut.
Hari ini, jika kita sedang berada dalam masa yang tidak mudah, jangan langsung menganggap Tuhan meninggalkan kita.
Izinkan Tuhan memakai setiap proses untuk membentuk hati kita. Sebab terkadang Tuhan tidak segera mengubah keadaan, karena terlebih dahulu Ia sedang mengubah kita menjadi pribadi yang semakin mengenal dan percaya kepada-Nya.
“Kesulitan dapat menjadi sekolah tempat iman belajar bertahan, berharap, dan tetap taat kepada Allah.” — John Wesley





