Amsal 8:35 (TB) “Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan akan dia.”
Amsal 8:27–36 menggambarkan hikmat sebagai sesuatu yang telah ada sejak awal karya penciptaan Tuhan. Ketika Tuhan membentuk langit, menetapkan batas laut, dan meletakkan dasar bumi, hikmat hadir di dalam karya-Nya.
Gambaran ini menunjukkan bahwa kehidupan yang berjalan sesuai hikmat Tuhan adalah kehidupan yang mengikuti tatanan dan kehendak-Nya.
Kita sering mengandalkan pengalaman, kemampuan, atau penilaian sendiri dalam mengambil keputusan. Padahal tidak semua yang terlihat baik menurut kita akan membawa hasil yang baik.
Karena itu, firman Tuhan mengajak kita untuk mendengarkan hikmat dan belajar berjalan dalam jalan-Nya.
Ayat 34 berkata, “Berbahagialah orang yang mendengarkan aku.” Mendengarkan hikmat bukan sekadar mengetahui apa yang benar, tetapi juga bersedia melakukannya.
Kita bisa mengetahui banyak nasihat yang baik, tetapi semuanya tidak akan berarti jika kita terus memilih mengikuti keinginan sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, hikmat dibutuhkan dalam banyak hal: ketika mengambil keputusan, menggunakan uang, memilih pergaulan, menghadapi konflik, bekerja, maupun merencanakan masa depan.
Kadang keputusan yang bijaksana tidak selalu menjadi pilihan yang paling mudah atau menyenangkan, tetapi dapat menghindarkan kita dari penyesalan.
Amsal juga memberikan peringatan bahwa menolak hikmat berarti merugikan diri sendiri.
Ayat 36 mengatakan bahwa siapa yang tidak mendapatkan hikmat mencelakakan dirinya. Pilihan yang salah mungkin terlihat kecil pada awalnya, tetapi jika terus dilakukan dapat membawa kita semakin jauh dari jalan yang benar.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi belajarlah bertanya, “Apa yang benar di hadapan Tuhan?”
Hari ini, mari kita menyediakan hati yang mau mendengar, belajar, dan diarahkan oleh firman Tuhan.
Hikmat bukan hanya membuat kita mengetahui jalan yang benar, tetapi menolong kita berani memilih dan menjalaninya. Carilah hikmat Tuhan dalam setiap langkah, karena di dalamnya ada kehidupan dan jalan yang membawa kita semakin dekat kepada-Nya.
“Hikmat rohani tumbuh ketika kita belajar menyerahkan kehendak sendiri dan mencari kehendak Allah sebelum bertindak.” — Andrew Murray





