Menu Tutup
Berdiam Diri
gkka-sendawar-renungan-harian-rohani-kristen

Renungan Harian Baca: Habakuk 1:1-4; 2:20

1:1 Ucapan ilahi dalam penglihatan nabi Habakuk.

1:2 Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong?

1:3 Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.

1:4 Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.

2:20 Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!

Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar? —Habakuk 1:2

Ayam berhamburan ketakutan ketika truk-truk yang membawa bantuan melewati gubuk-gubuk lapuk di kampung itu. Anak-anak yang bertelanjang kaki hanya bisa menatap. Jarang ada kendaraan melintas di jalanan yang mirip kubangan itu.

Tiba-tiba, konvoi kendaraan itu melihat sebuah rumah besar berpagar tinggi. Itulah rumah walikota— walaupun ia sendiri tidak tinggal di sana. Masyarakatnya kekurangan kebutuhan pokok, sementara ia berfoya-foya di tempat lain.

Kita marah melihat ketidakadilan seperti itu. Seorang nabi Allah juga. Ketika Habakuk melihat penindasan merajalela, ia bertanya, “Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar?” (Hab. 1:2). Namun, Allah selalu mengindahkan, dan Dia berkata, “Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya . . . yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya” (2:6,9). Penghakiman segera datang!

Kita mungkin lega melihat Allah menghakimi orang lain, tetapi satu hal penting dalam kitab Habakuk membuat kita harus merenung: “Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!” (Hab. 2:20). Segenap bumi. Yang tertindas dan yang menindas. Ketika rasanya Allah sedang berdiam diri, adakalanya kita hanya bisa memberikan respons . . . dengan berdiam diri!

Mengapa berdiam diri? Karena kita bisa saja mengabaikan kekurangan rohani kita sendiri. Berdiam diri membuat kita menyadari keberdosaan kita di hadapan Allah yang kudus.

Habakuk belajar mempercayai Allah, dan kita juga dapat melakukannya. Kita tidak tahu segala jalan-Nya, tetapi kita tahu Dia baik. Tiada sesuatu pun di luar kendali dan waktu-Nya. —Tim Gustafson

Tuhan, saat masalah menerpa, kami dapat berdoa seperti Habakuk, “Ya Tuhan, kudengar kabar tentang perbuatan-Mu, maka rasa khidmat memenuhi hatiku. Kiranya perbuatan besar itu Kauulangi dan Kaunyatakan di zaman kami ini.” —(Hab. 3:2 BIS)

Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya. —Amsal 29:7

Sumber Renungan Harian

Picture of Post oleh: GKKA Sendawar

Post oleh: GKKA Sendawar

Admin Media GKKA Indonesia Jemaat Sendawar

Disclaimer:
Beberapa bagian isi artikel di situs ini mungkin saja berasal dari berbagai sumber terbuka di internet, hak cipta sepenuhnya dimiliki oleh pemilik aslinya. Proses keberatan silahkan hubungi kami untuk penghapusan atau atribusi yang sesuai.

Kolom Komentar!

Berkomentar sesuai Pedoman Kami

Artikel Terbaru

Menemukan Sauh di Tengah Badai, Alarm Kuat untuk Berdiri Teguh

Dunia berguncang oleh perang, krisis, dan bencana. Ini adalah “alarm rohani” untuk berhenti mengandalkan dunia dan kembali pada Kristus. Saatnya koreksi diri: jangan biarkan cemas menenggelamkan iman. Bangkitlah, angkat mukamu, dan jadilah terang di tengah badai. Harapan sejati hanya ada dalam Tuhan

Pancasila dan Iman Kristen, Menjalin Harmoni dalam Keberagaman

Pancasila dan Iman Kristen memiliki titik temu dalam nilai universal. Sila-silanya selaras dengan ajaran kasih, keadilan, dan persatuan dalam Alkitab. Semangat pancasila diperkuat oleh konsep Tubuh Kristus yang berbeda tapi satu. Kita dipanggil menjadi garam & terang, mewujudkan harmoni di Indonesia

Kenaikan Yesus Kristus – Janji, Kuasa, dan Harapan

Hari Kenaikan Yesus Kristus adalah salah satu momen penting dalam kalender kekristenan. Ini bukan hanya sebuah peristiwa sejarah yang mengisahkan bagaimana Yesus terangkat ke surga 40 hari setelah kebangkitan-Nya, melainkan juga menjadi tanda penggenapan janji, pernyataan kuasa, dan peneguhan pengharapan bagi umat percaya di sepanjang zaman.

Kenaikan Yesus Kristus Merupakan Mahkota Harapan dan Kuasa Roh

Kisah Kenaikan Yesus Kristus tercatat jelas di Alkitab. Peristiwa ini bukan akhir, melainkan awal kuasa Roh Kudus, pemuliaan Yesus sebagai Imam Besar kita, dan jaminan kedatangan-Nya kembali. Renungan ini akan mengajak kita merenungkan bagaimana Kenaikan Yesus relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Buat tulisan Anda sendiri seperti Artikel, Kesaksian, Renungan Rohani, Khotbah, Berita dan lain sebagainya.

“Karena kamu menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan selalu abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”.
— Pramoedya Ananta Toer
Menulis
Pilih dan Bagikan Pengalamanmu
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email