Menu Tutup
Dalam Penyesalan Sekalipun, Anugerah-Nya Memulihkan Kita
Menjadi orang yang minder dan kurang percaya diri membuatku sering kesulitan saat membuat pilihan dalam hidup ini. Bukan hanya pilihan dalam ruang lingkup besar dan krusial, tapi juga pilihan ‘sepele’ dalam kehidupan sehari-hari

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Menjadi orang yang minder dan kurang percaya diri membuatku sering kesulitan saat membuat pilihan dalam hidup ini. Bukan hanya pilihan dalam ruang lingkup besar dan krusial, tapi juga pilihan ‘sepele’ dalam kehidupan sehari-hari. Semisal: aku harus pakai baju apa hari ini agar terlihat bagus? Aku harus naik transportasi apa supaya tidak terlambat sampai kantor dan tidak ditegur atasan? Jawaban apa yang harus kuberikan pada temanku yang sedang curhat tanpa harus menghakimi atau melukai hatinya?

Takut salah. Dua kata yang aku sadari benar-benar terjadi dalam membuat pilihan di hidupku sehari-hari. Aku takut salah mengambil langkah dan berujung pada kerugian, baik untuk diriku sendiri maupun orang lain. Aku takut menyesal. Bagiku, rasa penyesalan itu rasanya menyakitkan. Tidak enak.

Waktu SMA, aku pernah mengalami penyesalan dalam hal relasi pertemanan. Kondisinya saat itu kami sedang mengobrol biasa melalui pesan singkat, layaknya teman baik yang saling curhat terkait masalah masing-masing. Namun ada perkataan dariku—yang menurutku baik-baik saja—ternyata menyinggung perasaannya. Dia jadi salah paham dan akhirnya marah padaku. Komunikasi lewat pesan di layar ponsel merupakan bahasa yang tidak berbunyi, tidak menampilkan bahasa tubuh, tidak bisa mengekspresikan nada bicara yang sebenarnya sehingga sangat rentan untuk disalahartikan. Akibat tersinggung itu, dia menuliskan satu kata yang pada akhirnya membuatku juga ikutan tersinggung: munafik. Satu kata yang sungguh tajam melukai hatiku. Di situ aku bingung dan bertanya-tanya: Aku salah di mana, sih? Sejak saat itu pertemanan kami cukup merenggang. Kami tidak saling sapa lagi ketika bertemu di sekolah, bahkan sampai lulus SMA. Padahal sebelumnya kami adalah teman baik.

Masalah relasi tersebut akhirnya makin memperbesar rasa ‘takut salah’ itu sendiri. Aku makin kesulitan untuk bersikap dan berkata-kata pada orang lain. Aku terus-menerus bertanya pada diri sendiri: harus bersikap seperti apa? Kata-kata apa yang paling baik untuk diucapkan pada orang lain? Pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran ini pun pada saat yang sama memperbesar rasa minder dan kurang percaya diri itu sendiri. Bukan hanya dalam hal relasi, tapi dalam banyak aspek kehidupan. Aku jatuh pada penyesalan.

Lalu aku sempat berpikir: seandainya waktu dapat diulang kembali, aku akan memilih kata- kata lain yang lebih kecil kemungkinannya untuk menyinggung perasaannya. Di saat yang sama, dalam keegoisanku, aku sering juga membela diri dalam pembenaran: tapi aku kan tidak mengucapkan kata-kata kasar padanya. Kok dia tersinggung, sih? Sungguh pikiran yang kontradiktif karena aku pun bingung menentukan apakah yang kulakukan itu benar atau salah.

Dalam perenunganku menghadapi rasa sesal di masa lalu, di tengah penulisan ini aku diingatkan tentang penyesalan yang dialami raja Daud dalam Mazmur 32. Daud mengatakan:

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran- pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.”

Mungkin pengalaman menyesal yang kualami tidak seberat apa yang raja Daud alami. Namun aku belajar bahwa penyesalan pun ternyata bisa dibawa kepada Tuhan dan hanya dalam anugerah Allah saja kita bisa diselamatkan dan terbebas dari belenggu rasa bersalah. Aku sedih telah membuat teman baikku tersinggung dan sampai membuahkan relasi yang retak. Aku juga menyesal mengapa aku pada waktu itu tidak minta maaf duluan tanpa perlu membela diri melakukan pembenaran dengan alasan aku juga ikut tersinggung dengan kata-katanya. Namun, sepertinya dari peristiwa ini aku sedang diajari untuk tetap rendah hati, mau mengakui kesalahan, kelemahan dan kerentanan di hadapan Tuhan, dan menyerahkan relasi yang retak untuk Tuhan pulihkan. Aku juga belajar bahwa kedepannya, aku bisa meminta hikmat pada Tuhan dalam menentukan pilihan-pilihan yang bijaksana, termasuk pilihan dalam cara berkomunikasi atau menyampaikan pesan pada orang lain.

Cerita penyesalanku ini hanya satu dari sekian banyak penyesalan yang kualami akibat pilihan-pilihan bodoh yang kuambil di masa lalu. Namun aku juga ternyata punya pilihan untuk menjadikan masa laluku sebagai pengingat, bahwa Tuhan tak pernah tinggalkan aku dalam momen apapun; bahwa Tuhan tak pernah bosan untuk menungguku menyapa-Nya setiap hari dan menyerahkan segala masalah serta pergumulan dosaku pada-Nya; bahwa Tuhan memberikan kasih-Nya yang luar biasa dari atas kayu salib buatku supaya terbebas dari belenggu rasa bersalah; bahwa anugerah pengampunan-Nya benar-benar nyata dan terjadi.

Sekarang, dalam penyertaan Tuhan aku pelan-pelan belajar untuk mengikis rasa minder dan tidak percaya diri akibat rasa bersalah yang menghalangiku dalam membuat sebuah pilihan. Mengutip apa yang ditulis oleh David G. Benner dalam bukunya yang berjudul Surrender To Love bahwa “rasa bersalah selalu menghasilkan halangan bagi kasih” juga membuatku mengizinkan diriku untuk tenggelam dalam kasih karunia-Nya. Aku memberi diri untuk ditolong Tuhan dalam membereskan luka penyesalan di masa lalu supaya kini aku bisa melangkah maju ke depan bersama-Nya tanpa dibelenggu rasa penyesalan.

Grace alone. Hanya karena kasih karunia.

“Grace alone which God supplies

Strength unknown He will provide

Christ in us our corner stone

We will go forth in grace alone.”

(Grace Alone – Scott Wesley Brown, Jeff Nelson)

Sumber : WarungSateKamu

Picture of Post oleh: GKKA Sendawar

Post oleh: GKKA Sendawar

Admin Media GKKA Indonesia Jemaat Sendawar

Disclaimer:
Beberapa bagian isi artikel di situs ini mungkin saja berasal dari berbagai sumber terbuka di internet, hak cipta sepenuhnya dimiliki oleh pemilik aslinya. Proses keberatan silahkan hubungi kami untuk penghapusan atau atribusi yang sesuai.

Kolom Komentar!

Berkomentar sesuai Pedoman Kami

Artikel Terbaru

Menemukan Sauh di Tengah Badai, Alarm Kuat untuk Berdiri Teguh

Dunia berguncang oleh perang, krisis, dan bencana. Ini adalah “alarm rohani” untuk berhenti mengandalkan dunia dan kembali pada Kristus. Saatnya koreksi diri: jangan biarkan cemas menenggelamkan iman. Bangkitlah, angkat mukamu, dan jadilah terang di tengah badai. Harapan sejati hanya ada dalam Tuhan

Pancasila dan Iman Kristen, Menjalin Harmoni dalam Keberagaman

Pancasila dan Iman Kristen memiliki titik temu dalam nilai universal. Sila-silanya selaras dengan ajaran kasih, keadilan, dan persatuan dalam Alkitab. Semangat pancasila diperkuat oleh konsep Tubuh Kristus yang berbeda tapi satu. Kita dipanggil menjadi garam & terang, mewujudkan harmoni di Indonesia

Kenaikan Yesus Kristus – Janji, Kuasa, dan Harapan

Hari Kenaikan Yesus Kristus adalah salah satu momen penting dalam kalender kekristenan. Ini bukan hanya sebuah peristiwa sejarah yang mengisahkan bagaimana Yesus terangkat ke surga 40 hari setelah kebangkitan-Nya, melainkan juga menjadi tanda penggenapan janji, pernyataan kuasa, dan peneguhan pengharapan bagi umat percaya di sepanjang zaman.

Kenaikan Yesus Kristus Merupakan Mahkota Harapan dan Kuasa Roh

Kisah Kenaikan Yesus Kristus tercatat jelas di Alkitab. Peristiwa ini bukan akhir, melainkan awal kuasa Roh Kudus, pemuliaan Yesus sebagai Imam Besar kita, dan jaminan kedatangan-Nya kembali. Renungan ini akan mengajak kita merenungkan bagaimana Kenaikan Yesus relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Buat tulisan Anda sendiri seperti Artikel, Kesaksian, Renungan Rohani, Khotbah, Berita dan lain sebagainya.

“Karena kamu menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan selalu abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”.
— Pramoedya Ananta Toer
Menulis
Pilih dan Bagikan Pengalamanmu
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email