Ancaman dapat membuat seseorang takut, pemimpin sekalipun sehingga cenderung membuatnya mencari jalan keluar yang salah. Ancaman dapat bersumber dari alam, penyakit seperti COVID-19 yang sekarang sangat membuat umat manusia ketakutan, binatang buas dan juga dari Manusia entah rakyat, atasan maupun pemimpin atau sekutu pemerintah.
Sebagaimana Raja Ahaz terhadap ancaman dari Aram dan Israel oleh karena Penolakannya untuk bergabung dengan Aram dan Israel melawan Asyur (Yes. 7:1-3). Inilah kondisi krisis dalam hidup manusia sebenarnya yang menunjukkan bahwa ada satu keadaan yang urgen, yang harus direspon segera.
Dalam Yesaya 7:1-9, Dalam menghadapi Ancaman yang begitu berbahaya dan menakutkan, TUHAN memberi jaminan kepada Raja Ahaz dan Orang Yehuda agar mereka tetap setia dengan mengutus Nabi Yesaya untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran kepada Bangsa Yehuda yakni:
- Mengendalikan Diri (Yesaya 7:4)
Di kala Ahaz dan rakyatnya sedang dalam ketakutan yang besar, TUHAN mengutus sang Nabi untuk mengusir ketakutan mereka, dan menasehati supaya sama sekali tidak menyerah kepada ketakutan itu, melainkan mengendalikan diri mereka, dan memelihara nyawa mereka sebagaimana pada ayat 4:… “Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya” dan tinggallah tenang.
Untuk menghibur dibutuhkan peringatan. Supaya dapat tenang, kita perlu memperhatikan dan berjaga-jaga terhadap hal-hal yang mengancam sehingga membuat gelisah.
“Janganlah takut dengan hal yang luar biasa ini, yang melemahkan, dan menyiksa. Janganlah juga hatimu menjadi lemah, sehingga hancur dan tidak berdaya di dalam dirimu. Tetapi bangkitkanlah semangatmu, bergembiralah atas hal itu dan jadilah berani. Jangan biarkan ketakutan mengacaukan pertolongan yang ditawarkan akal sehat dan iman untuk mendukungmu” Perhatikanlah, orang-orang yang mengharapkan Allah supaya menolong mereka harus menolong diri mereka sendiri (Mzm. 27:14).
- Tetap Beriman dan Bergantung sepenuhnya kepada Allah (Yesaya 7:4)
Sang Nabi dihadirkan supaya mengajar Orang Yehuda untuk menganggap rendah musuh-musuhnya, bukan dalam kesombongan, atau percaya diri, atau kurang pertimbangan, melainkan dengan Iman dan ketergantungan kepada Allah. Dengan ketakutan Ahaz menyebut mereka dua raja cerdik yang sangat kuat, karena dia bukanlah lawan yang setara bagi salah satu dari mereka, sehingga apalagi jika mereka bersatu, dia tidak berani memandang langsung ke wajah mereka, ataupun bangkit melawan mereka. “Tidak,” kata Nabi, “Mereka adalah dua puntung kayu api yang berasap”
- Yakin bahwa TUHAN Menggagalkan Rencana musuhnya (Yesaya 7:5-7)
Sang Nabi harus meyakinkan mereka bahwa memang benar, rencana sekutu-sekutu besar itu, namun pasti akan digagalkan TUHAN dan semuanya sia-sia.. 5 Oleh karena Aram dan Efraim dengan anak Remalya telah merancang yang jahat atasmu, dengan berkata: 6 Marilah kita maju menyerang Yehuda dan menakut-nakutinya serta merebutnya, kemudian mengangkat anak Tabeel sebagai raja di tengah-tengahnya, 7 maka beginilah firman Tuhan ALLAH: Tidak akan sampai hal itu, dan tidak akan terjadi,…” Apa yang Ahaz anggap paling hebat justru menjadi alasan kekalahan mereka, yaitu dalamnya rencana-rencana mereka dan tingginya harapan-harapan mereka.
Allah sendiri memberikan janji-Nya kepada Ahaz bahwa usaha tersebut tidak akan berhasil sebab TUHAN yang berkuasa atas segala sesuatu, yang menggagalkan rencana bangsa-bangsa
- Memadukan Iman dengan Jaminan-jaminan TUHAN (Yesaya 7:8-9)
Yesaya harus mendesak Ahaz dan rakyatnya untuk menyatukan iman dengan jaminan-jaminan yang dia sampaikan kepada mereka (ay. 9): “Jika kamu tidak percaya kepada perkataan yang disampaikan kepadamu, sungguh, kamu tidak teguh jaya. Keadaanmu yang goyah dan kacau tidak akan berdiri teguh, jiwamu yang tidak tenang dan gelisah juga tidak. Walaupun hal-hal yang diberitahukan kepadamu sangat menguatkan, namun semua itu tidak akan membangkitkan semangatmu, kecuali kamu mempercayainya, dan mau mempercayai firman Allah.”
Perhatikanlah, anugerah iman yang sungguh-sungguh diperlukan untuk menenangkan dan menentramkan pikiran di tengah guncangan pada masa kini.
Kesimpulan:
Ancaman dapat dialami siapa saja dan datang dari berbagai pihak namun ancaman besar dan paling berbahaya sekalipun tidak akan melanda orang yang setia kepada Tuhan sesuai Jaminan-Nya, jika umat Tuhan hidup mengendalikan diri, tetap beriman dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, yakin bahwa Tuhan yang menggagalkan rencana musuhnya dan memadukan iman dengan jaminan-jaminan TUHAN. — I M A N U E L —





