Kesaksian oleh : Kristi Griffin, USA
Email : griffindawgs@integrity.com
Hari ini Rabu, pukul 17.00, bagi kebanyakan orang di kota Jackson saat ini adalah akhir dari pekerjaan dan waktunya pulang ke rumah, tetapi bagi saya itu hanya setengah jalan menuju hari terpanjang dalam hidup saya.
Saya dan Eric, suamiku, akan bertemu di rumah baru yang kami bangun. Saya sedang berkendara menuju ke daerah Mother’s untuk menjemput putri kami yang berusia empat tahun, Ericka.
Sebagaimana anak-anak lain pada usia itu, dia suka membantu dalam segala hal.
Setelah menjemput Ericka dari Mother’s, saya langsung kembali ke “The Land” nama sebutan untuk lokasi rumah baru kami. Saya bersama Eric dan beberapa teman kami membeli sekitar empat puluh hektar lahan untuk membangun rumah kami. Dan saat ini kami sedang dalam proses membangun rumah baru.
Saat sudah dekat dengan rumah baru kami, saya melihat Eric dan Corey ada di sana. Corey, putra kami yang berusia 11 tahun, sedang bermain dengan temannya.
Jika mengingat cerita sedih tentang kejadian Ericka dan kejadian lainnya, saya mulai meragukan apakah “The Land” adalah tempat yang Tuhan inginkan untuk kami tinggal?
Baru-baru ini terjadi dua kali kebakaran semak, keduanya terjadi hanya berjarak dua puluh meter dari rumah. Saya sharing hal ini kepada rekan kerja, lalu bertanya; Apakah Tuhan menyuruh kami pindah? Dia menjawab; Tangan Tuhan akan melindungimu. Jika Dia tidak mengizinkannya, maka rumah itu akan dilalap api.
Pada malam di bulan Januari, saya bersama Eric dan Ericka berada di lantai dua untuk membersihkan sisa pekerjaan sebagai kegiatan rutin kami. Ericka menyapu dengan sapu dorong lebar sementara Eric menyedot debu. Saya berada sekitar beberapa meter jauhnya dari mereka.
Saat saya membungkuk untuk mengambil barang, saya dan Eric mendengar suara “Ping” keras bergema di bawah kami. Ketakutan mencengkeram saya karena satu-satunya terpikir bahwa suara itu adalah gagang sapu yang menghantam pelat beton di lantai satu. Itu adalah intuisi seorang ibu.
Saya lari bergegas ke ujung balkon dan melihat Ericka. . . terbaring tak sadarkan diri di lantai! Sambil Berteriak, aku terbang menuruni tangga. Sampai di bawah Eric sudah berada di sisinya. Dia melompati balkon tanpa melewati tangga.
Berbagai upaya kami lakukan untuk mencoba membuatnya sadar, tetapi tidak berhasil. Namun akhirnya, dia membuka matanya meskipun kedua bola matanya di sebalah kiri atas. Pikiranku adalah ‘ini tanda trauma kepala’ dan Lehernya tidak bisa digerakkan ketika sadar. Saya semakin takut dan sulit berbicara, hanya bisa mengambil dan memeluk Ericka dari Eric saat itu. Kemudian Eric berlari untuk mengambil mobil.
Perjalanan ke rumah sakit terasa seperti lama sekali bagi kami saat itu, meskipun jaraknya hanya 30 Kilometer dan jalan yang bagus. Eric mencoba menelepon 911 (nomor kontak darurat) untuk mencari bantuan medis di jalan, tetapi sekarang hampir jam sembilan malam; dan mereka tidak dapat menemukan kami.
Eric mulai menanyakan segala macam pertanyaan pada Ericka untuk memastikan dia tetap sadar dan peka dengan lingkungan sekitar. Ericka menjawab “ya, Bu” lalu mengoreksi jawaban “maksud saya, ya tuan'” di antara tangisannya. Lalu beberapa waktu kemudian Ericka meminta Ayahnya untuk menyanyikan lagu “Jesus Loves Me”. Saat Eric mulai bernyanyi, saya mulai menangis lebih keras. Diakhir lirik lagu Erick berhenti bernyanyi dan ternyata Ericka menyelesaikannya.
Sambil menuju parkir Rumah Sakit, Eric kembali menelepon 911 untuk memberi tahu mereka bahwa kami sudah tiba dan tanpa bantuan medis.
Begitu sampai di ruang UGD rumah sakit Ericka mulai muntah – ini tanda lain dari trauma kepala. Tim medis segera memulai IV’s, X-rays, CT scans, dan lainnya untuk memastikan kerusakan pada kepalanya tepat di sisi benturan dengan dengan beton.
Kami bertanya-tanya dan menyimpulkan kejadiannya bahwa sepertinya dia sedang menyapu lalu mundur di antara tiang-tiang dinding. Kami menghubungi keluarga dan teman, untuk memulai rantai doa. Selama tesnya, kami melihat darah keluar dari lubang hidung kanan Ericka. . . dan itu menyebabkan kami panik lagi.
Menit terasa seperti berjam-jam, jam seperti berhari-hari saat mereka menyelesaikan satu tes demi tes lainnya. Akhirnya dokter datang untuk memberikan diagnosa. Dia bilang Ericka hanya mengalami gegar otak kecil! Kami sangat senang mendegar itu! Seorang perawat berkomentar kepada saya “Anda tahu bu, anak-anak sangat tangguh”. Meskipun terkadang benar, saya menjelaskan kepadanya bahwa hanya tangan Tuhan yang dengan aman menggendong anak saya Ericka ketika jatuh dari ketinggian 3,5 meter ke lantai.
Kami memuji Tuhan atas Mujizat-Nya selama waktu yang telah berlalu, meskipun kami tidak tahu seberapa banyak orang yang bersyafaat dalam doa untuk Ericka.
Pukul 02.30 pagi itu saya menelepon sepupu saya, Eydie, di Louisiana untuk menyampaikan kabar tersebut. Dia mengatakan ayahnya meneleponnya untuk memberi tahu namun tidak ada yang menjawab jadi meninggalkan pesan di mesin penjawab, tetapi yang saya tahu hanyalah Ericka jatuh dari lantai dua. Eydie berkata lagi, setelah mendengar pesan itu tiba-tiba muncul rasa sakit yang tajam di sisi kanan kepalanya, tetapi tidak tahu kenapa. Kemudian bersama suaminya mereka berdoa dalam perantaraan bagi Ericka, mengurapi kepala Eydie untuk rasa sakit itu. Setelah “Amin” dari doa, rasa sakit di kepalanya hilang seketika. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia tahu pada saat itu Ericka akan baik-baik saja karena dia juga merasakan dan sakit itu hilang.
Lima hari kemudian Eric dan saya kembali ke rumah. Kami memperbaiki beberapa bagian dalam rumah. Kami mengetes kejadian saat itu, dan untuk mendengar suara sapu jatuh ke bawah, vacum cleaner harus dimatikan. Ini bukan kebetulan, karena Eric tidak pernah mematikan vacuum cleaner dan berhenti bekerja sampai pekerjaannya selesai. Tapi saat kejadian itu vacuum cleaner dalam keadaan mati. Juga, kami naik ke atas dan melihat rel di balkon yang Eric lompati, dan retak sepanjang papan.
Bersama-sama kami bercerita tentang laporan dokter yang menyatakan bahwa tulang rawan kecil di atas telinga kanan Ericka melindungi benturan yang menyelamatkan hidupnya. Hanya tulang rawan kecil, tapi kami tahu itu adalah Tuhan.
Juga, selama minggu ini, kami mengetahui ada seorang pria (Tonye) dari gereja kami mengadakan doa bersama kelompoknya di tempat kerja di hari setelah kejadian itu pada pukul 02:15 dini hari. Ternyata tepat pada saat Ericka muntah untuk terakhir kalinya. . . jawaban lain dari doa.
Kemudian hal yang paling sulit dipercaya terjadi. . . Saya memiliki foto anak-anak yang dibuat oleh fotografer di daerah kami, beberapa bulan yang lalu. Dia adalah seorang wanita Kristen taat yang memberi saya sebuah catatan indah dengan foto-foto saya, menjelaskan bagaimana dia menganggap fotografinya sebagai hadiah yang telah diberikan Tuhan dan diberikan kepada saya dengan gratis. Dengan hadiah ini dia merasa bahwa Tuhan memberi dia karunia tidak hanya untuk memotret, tetapi juga berdoa untuk setiap orang yang ada di dalam fotonya.
Jadi setelah saya membaca catatan itu, saya memutuskan untuk mengirimkan email terima kasih atas catatan tersebut dan untuk beberapa alasan saya berbagi cerita tentang Ericka dengannya.
Balasannya melalui email: “Saya berusaha melihat dengan mata berkaca-kaca untuk menjawab ini. Anda mungkin tidak percaya ini : Saya sedang duduk di kantor ketika Tonye masuk. Dia mulai memberi tahu saya bahwa dia ingin saya berdoa tentang sesuatu. Saya berkata “Tentu, apa itu?” Dia menundukkan kepalanya dan mencoba menyembunyikan air matanya dan mulai bercerita tentang seorang gadis kecil yang berharga bernama Ericka yang baru saja jatuh setinggi 3,5 meter ke lempengan beton dan telah dilarikan ke rumah sakit dengan luka di kepala. Saya segera mulai berdoa dan memberi tahu seluruh kelompok doa kami melalui email untuk meminta mereka juga berdoa. Saya tidak pernah bermimpi bahwa akan melihat anak kecil ini, apalagi mengambil fotonya. Mungkin hal yang baik jika saya tidak tahu siapa dia ketika saya mengambil fotonya karena saya tidak akan bisa berhenti memeluknya cukup lama. Ini sangat luar biasa bagiku. Tuhan kita adalah Tuhan yang luar biasa! ”
Kami percaya bahwa Tuhan tidak hanya menyelamatkan hidup Ericka, tetapi juga melalui KEKUATAN DOA, Ericka dalam kondisi normal hari ini.
Matius 18:20 mengatakan : ”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”





