Suatu hari, suasana ibadah Minggu siang terasa sangat sejuk karena AC gereja baru saja diperbaiki. Ditambah lagi, khotbah pendeta hari itu agak panjang dan dibawakan dengan suara yang tenang serta monoton. Alhasil, seorang jemaat bernama Pak Joko tertidur pulas di barisan depan sampai mendengkur pelan.
Melihat hal itu, pendeta ingin memberikan teguran halus tanpa harus menghentikan khotbahnya. Beliau memutuskan untuk menggunakan teknik interaksi suara.
Dengan suara yang sangat pelan dan lembut, pendeta bertanya kepada jemaat, “Bapak, Ibu, saudara-saudari sekalian… Siapa di antara kita yang ingin masuk ke dalam Kerajaan Sorga?”
Semua jemaat serentak mengangkat tangan mereka dan menjawab dengan berbisik khidmat, “Saya…” (Kecuali Pak Joko yang masih terlelap).
Tiba-tiba, pendeta menghentikan kalimatnya, menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak sekuat tenaga di mikrofon: “DAN SIAPA YANG MAU PERGI KE NERAKA SEKARANG JUGA?!”
Mendengar suara menggelegar itu, Pak Joko langsung terlompat kaget dari kursinya. Tanpa tahu apa yang sedang terjadi, ia berdiri tegak sambil melihat sekeliling gereja yang mendadak sunyi senyap.
Sambil mengucek mata dan melihat pendeta yang menatapnya tajam, Pak Joko berkata dengan polos, “Wah Pak Pendeta… saya tidak tahu kita sedang bahas apa, tapi sepertinya cuma kita berdua saja yang berdiri mendukung ide ini!”




