Menu Tutup
Membesarkan Anak-Anak di Dunia yang Penuh Ketidakpastian
Membesarkan anak-anak di dunia yang penuh ketidakpastian menghadirkan tantangan baru yang memerlukan perencanaan yang matang, tetapi juga memberikan kesempatan unik untuk menyatukan kembali keluarga dan menjadikan rumah Anda tempat yang aman bagi orang yang Anda cintai

Stephanie Cantu
Stephanie is the Founder of Happy Spots by Empowered Minds, an active meditation and mindfulness program for youth that works
— Seri Terjemahan / sumber : Lifehack.org

Jika Anda membesarkan anak-anak hari ini, kemungkinan Anda ingat bagaimana rasanya menghabiskan masa kecil Anda tanpa teknologi, memutar kaset, berbicara tatap muka dengan teman, meminta tumpangan kepada orang tua, dan menyepakati waktu penjemputan karena saat itu tidak ada ponsel.

Mungkin tampak lebih mudah saat itu, tapi masih ada banyak tantangan. Kekerasan, ketidaksetaraan, dan intimidasi juga ada saat itu. Segalanya selalu tampak lebih mudah dan indah jika diingat memory ke belakang yang penuh kenangan, namun kita sering melupakan bagian-bagian yang sulit.

— Amsal 22:6
Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Membesarkan anak-anak di dunia yang penuh ketidakpastian menghadirkan tantangan baru yang memerlukan perencanaan yang matang, tetapi juga memberikan kesempatan unik untuk menyatukan kembali keluarga dan menjadikan rumah Anda tempat yang aman bagi orang yang Anda cintai.

Menjaga anak-anak bahagia tidak ada hubungannya dengan apa yang kita berikan kepada mereka dan semuanya berkaitan dengan waktu yang kita habiskan bersama, sebab pertumbuhan tidak akan terjadi tanpa perjuangan.

Kita hidup di era digital dimana jadwal, teknologi, dan media sosial yang padat adalah hal biasa bagi pribadi maupun keluarga. Berikut adalah 10 ide sederhana untuk membuat membesarkan anak-anak di dunia yang tidak pasti tidak terlalu membuat stres.

1. Terima dan Pelajari Emosi Anak Anda

Terima dan pelajari setiap emosi yang dialami anak-anak Anda. Bayangkan saat Anda sedang marah, tiba-tiba ada anggota keluarga (walaupun bermaksud baik) menyuruh Anda untuk santai, bagaimana perasaan Anda? Dalam kondisi demikian biasanya sulit untuk menerima!

Begitupun anak-anak. Jika mereka merasa cemas dan kuatir saat ke sekolah, memberi tahu mereka bahwa mereka baik-baik saja atau tidak perlu khawatir, tidak akan meredahkan rasa cemas dan kuatir mereka saat itu juga. Apa yang dapat kita lakukan adalah mencoba memahami mengapa mereka merasa seperti itu dan kemudian mengatur kegiatan yang dapat meningkatkan kepercayaan diri atau pada waktu berdua saat sarapan untuk membantu mereka merasa aman dan dicintai.

Tahan keinginan Anda untuk terlalu bereaksi saat kondisi mereka sedang tidak stabil (ini memang sulit dilakukan!). Adalah lebih baik mengatur waktu bicara dan sharing pengalaman saat Anda merasakan hal yang sama dan bagaimana Anda melewatinya.

2. Jadilah Zona Aman Mereka

Ini bukan tentang memiliki keluarga yang sempurna atau situasi rumah atau menjadi penurut. Menjadi zona aman mereka berarti anak Anda dapat menjadi dirinya sendiri di rumah mereka tanpa penghakiman. Konsep seperti ini mengharuskan semua keluarga dalam rumah terlibat.

Jika mereka memiliki hobi yang tidak biasa, tanyakan apa yang menarik minat mereka atau bagaimana perasaan mereka saat mengerjakannya, lalu ajak semua anggota keluarga ikut mengerjakan. Kondisi ini menguntungkan seluruh keluarga dan mendorong setiap orang untuk meninggalkan stres.

Beri mereka satu atau beberapa tanggung jawab di rumah yang tidak terikat pada uang saku atau hadiah. Kemudian jika ada perubahan dalam keluarga terhadap aturan Anda, awasi anak-anak. Mereka umumnya ingin tahu, sehingga perubahan apa pun yang berlaku akan memengaruhi mereka. Buat aturan yang baik dan tetap dapat menghibur mereka.

3. Batasi Media Sosial dan Tetap pada Zona Nyaman Teknologi Anda

Anak-anak sekarang ini sangat tertarik pada teknologi, tanpa kita sadari itu seperti magnet. Konsep pembatasan sangat baik menurut sudut pandang orang tua, tetapi anak-anak kita sering kali tidak merasa lebih baik.

Jangan merasa sedih ketika anak-anak Anda marah dengan aturan apa pun yang Anda buat (Demi kebaikan Anda harus kuat!). Bersyukur, Berdasarkan hasil riset kami mengatakan masih banyak anak yang mengatakan bahwa mereka senang orang tua mereka membatasi waktu penggunaan media sosial dan teknologi mereka . Meskipun mereka mungkin belum mengakuinya sekarang, suatu hari nanti mereka akan berterima kasih kepada Anda!

4. Tetap Terhubung Dengan Aktivitas Luar

Anak-anak dan remaja sering membutuhkan bimbingan untuk keluar dari pikiran mereka sendiri. Jalan-jalan keluarga, olahraga, bergereja, dan kegiatan perhatian lainnya adalah cara yang bagus untuk terhubung dan menyeimbangkan situasi.

Perhatian penuh memang terdengar sangat sulit dilakukan. Anda harus melakukan apa saja dengan menggunakan energi penuh Anda, namun manfaatnya sangat luas. Mengarahkan anak terhadap kesenian, memasak, mendengarkan musik, memijat badan anak minyak essensial, dan permainan pasar malam hanyalah beberapa ide untuk membawa perhatian dan ketenangan dalam keluarga Anda.

Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan bersama keluarga untuk mendapatkan manfaat yang luas. Pertimbangkan konsep hari bertema, dimana setiap anggota keluarga mendapat satu hari penuh untuk memilih kegiatan untuk seluruh anggota keluarga.

5. Terlibatlah Secara Luas

Apakah Anda dapat menjadi sukarelawan di komunitas Anda sebagai sebuah keluarga? Kegiatan di lingkungan rumah? Kegiatan Gereja? Komunitas Sosial? atau kegiatan di sekolah yang melibatkan orang tua.

Meskipun anak Anda tidak langsung mau bergabung dengan komunitas tersebut, coba ajak mereka untuk mencobanya. Mereka mungkin bisa tertarik pada sesuatu yang baru!

6. Bantu Keluarga Anda Membentuk Pola Pikir Maju

Hampir setiap hari orang tua terlalu banyak berharap atau menyudutkan, dan itu bukan cara terbaik untuk anak-anak kita. Adalah sebuah kesalahan untuk pertumbuhan anak. Tantangan diperlukan untuk menanamkan pola pikir dan tekad yang kuat.

Orang tua yang memuji usaha anak balita yang melakukan sesuatu dengan bakat mereka terbukti memiliki pola pikir yang lebih positif lima tahun kemudian. Anak-anak ini percaya bahwa kemampuan mereka dapat berkembang dan meningkat dengan kerja keras. [1]

Daripada Anda mengomentari hasil yang ingin sempurna, lebih baik fokus kepada usaha dan ketekunan. Tidak perlu terlalu dipikirkan pujian dari orang lain atau pujian dari luar, bantu mereka memperhatikan bagaimana upaya membuat sesuatu dan merasa mampu melakukannya.

Misalnya, Bagaimana rasanya melanjutkan dan menyelesaikan soal matematika itu? Apa yang Anda lakukan ketika hal-hal menjadi menantang? Apakah Anda bangga dengan hasilnya?

Meskipun tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita, terkadang yang terbaik adalah membiarkan mereka mengatasi masalahnya sendiri, dan mengetahui bahwa mereka dicintai dengan penuh kasih sayang Anda.

7. Jaga Waktu Keluarga

Ketika anak-anak kita mendekati masa remaja, mereka mungkin menunjukkan kencenderungan untuk bersama teman-teman daripada di rumah. Cobalah untuk menjaga setidaknya satu atau dua hari seminggu untuk waktu keluarga.

Sekali lagi, tidak peduli apa yang mereka katakan sekarang, mereka akan berterima kasih nanti di kemudian hari. Manfaatkan waktu bersama untuk terhubung dan melakukan sesuatu yang menyenangkan seperti bermain game atau menonton film, memasak makan malam bersama, atau memilih aktivitas secara bergantian.

8. Bantu Anak Anda Bertanggung Jawab atas Kesejahteraan Mereka

Bantu anak Anda mengembangkan keterampilan untuk bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka. Hidup di dunia dimana lingkungan eksternal kita tidak selalu damai atau dalam kendali kita, penting untuk mengajar anak-anak untuk mengambil alih diri pribadi mereka.

Meskipun setiap anak berbeda, sangat penting untuk membantu mereka mengeksplorasi kegiatan yang mengembangkan kepercayaan diri dan membuat mereka merasa baik. Ibadah, olahraga, seni, jurnal, yoga, bermusik, dan meditasi hanyalah beberapa pilihan menarik untuk membantu mereka menemukan kualitas.

9. Tahan Penjadwalan Berlebih

Sungguh menakjubkan bahwa kata “tidak” hadir lebih banyak ke dalam kosakata kita.

Anak-anak akan selalu mengatakan ya untuk setiap aktivitas menyenangkan. Terserah orang tua untuk membatasi komitmen. Namun penting bahwa terlalu banyak kegiatan menyenangkan dalam seminggu berdampak pada stres dan kelelahan.

10. Kembangkan Rutinitas Pagi

Apakah anak-anak Anda hanya di rumah atau pergi ke sekolah, setiap awal pagi menentukan kondisi hari itu.

Apa rutinitas yang baik bagi keluarga Anda? Lima belas menit dapat membuat semua perbedaan di dunia untuk mengatur anak-anak Anda dan diri Anda sendiri menikmati hari yang menyenangkan.

Berikut adalah beberapa ide:

  • Afirmasi – Dorong mereka untuk mengatakan jujur dengan cara menutup mata mereka dan bawa mereka memvisualisasikan seperti apa rasanya. Kemudian bahaslah sesuatu dan bagaimana mereka akan menerapkan ini di zaman mereka.
  • Musik pagi hari – Pilih lagu yang membangkitkan semangat untuk memulai hari Anda dan keluarga.
  • Latihan berdoa atau ucap syukur – Ini menanamkan harapan dan mengingatkan anak Anda bahwa mereka tidak sendirian. Otak kita memiliki bias negatif, yang berarti kita cenderung fokus pada masalah daripada hal-hal baik. [2]Akan sangat membantu untuk menjadikannya sebagai latihan untuk memperhatikan yang baik.
  • Membuka percakapan – Gunakan banyak referensi untuk membuka percakapan dan lakukan setiap pagi saat sarapan.

Kesimpulan

Membesarkan anak-anak di dunia yang penuh ketidakpastian tentu menimbulkan tantangan baru yang perlu kita waspadai. Namun, ini juga menghadirkan kesempatan unik untuk mendapatkan kembali waktu keluarga dan menciptakan lingkungan rumah yang mendukung dan ramah.

Perubahan apa yang dapat dilakukan pada rutinitas harian atau mingguan Anda untuk menyambung harmoni atau mengisi ruang emosional satu sama lain? Anda mungkin mendengar gerutuan saat Anda melakukan penyesuaian, tetapi pada saatnya nanti anak-anak Anda akan sangat berterima kasih!

Referensi

[1] ^ Harvard Graduate School of Education: Growth Mindset and Children’s Health
[2] ^ Verywellmind: What Is the Negativity Bias?

Picture of Post oleh: GKKA Sendawar

Post oleh: GKKA Sendawar

Admin Media GKKA Indonesia Jemaat Sendawar

Disclaimer:
Beberapa bagian isi artikel di situs ini mungkin saja berasal dari berbagai sumber terbuka di internet, hak cipta sepenuhnya dimiliki oleh pemilik aslinya. Proses keberatan silahkan hubungi kami untuk penghapusan atau atribusi yang sesuai.

Kolom Komentar!

Berkomentar sesuai Pedoman Kami

Artikel Terbaru

Menemukan Sauh di Tengah Badai, Alarm Kuat untuk Berdiri Teguh

Dunia berguncang oleh perang, krisis, dan bencana. Ini adalah “alarm rohani” untuk berhenti mengandalkan dunia dan kembali pada Kristus. Saatnya koreksi diri: jangan biarkan cemas menenggelamkan iman. Bangkitlah, angkat mukamu, dan jadilah terang di tengah badai. Harapan sejati hanya ada dalam Tuhan

Pancasila dan Iman Kristen, Menjalin Harmoni dalam Keberagaman

Pancasila dan Iman Kristen memiliki titik temu dalam nilai universal. Sila-silanya selaras dengan ajaran kasih, keadilan, dan persatuan dalam Alkitab. Semangat pancasila diperkuat oleh konsep Tubuh Kristus yang berbeda tapi satu. Kita dipanggil menjadi garam & terang, mewujudkan harmoni di Indonesia

Kenaikan Yesus Kristus – Janji, Kuasa, dan Harapan

Hari Kenaikan Yesus Kristus adalah salah satu momen penting dalam kalender kekristenan. Ini bukan hanya sebuah peristiwa sejarah yang mengisahkan bagaimana Yesus terangkat ke surga 40 hari setelah kebangkitan-Nya, melainkan juga menjadi tanda penggenapan janji, pernyataan kuasa, dan peneguhan pengharapan bagi umat percaya di sepanjang zaman.

Kenaikan Yesus Kristus Merupakan Mahkota Harapan dan Kuasa Roh

Kisah Kenaikan Yesus Kristus tercatat jelas di Alkitab. Peristiwa ini bukan akhir, melainkan awal kuasa Roh Kudus, pemuliaan Yesus sebagai Imam Besar kita, dan jaminan kedatangan-Nya kembali. Renungan ini akan mengajak kita merenungkan bagaimana Kenaikan Yesus relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Buat tulisan Anda sendiri seperti Artikel, Kesaksian, Renungan Rohani, Khotbah, Berita dan lain sebagainya.

“Karena kamu menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan selalu abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”.
— Pramoedya Ananta Toer
Menulis
Pilih dan Bagikan Pengalamanmu
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email