Menu Tutup
Seperti Apa Bentuk Kekristenan yang Sejati?
Masuk usia remaja saya harus memilih dua jalan, dunia ATAU jalan Kristus. Saya bingung beberapa tahun, tetapi saya secara pasti memilih cara dunia...

Oleh : Renee (nama tengah saya)

Kedua orang tua saya tidak ada yang beragama Kristen ketika saya lahir. Tetapi mereka memberi saya nama Kristen yang memiliki arti “Dilahirkan Kembali”. Betapa kerennya itu? 😉

Berbeda dengan banyak orang, saya memiliki kehidupan yang layak dan stabil masa kecil sampai remaja. Orang tua saya baik satu sama lain, tidak minum alkohol atau mengutuk atau berteriak dan mereka menghargai kerja keras.

Kami tidak punya banyak uang, tetapi mereka menyediakan rumah di lingkungan yang aman, makanan di atas meja, perayaan khusus pada hari ulang tahun dan membuat kami menghargai pendidikan dan etos kerja yang kuat.

Namun, saya tidak merasa sangat dicintai. Entah itu masuk akal atau tidak, namun berdasarkan beberapa keadaan di masa kanak-kanak, saya tidak merasa diterima, tidak memiliki keinginan yang kuat untuk unggul — merasa tidak mendapatkan kasih sayang — dan ketakutan yang mendalam akan penolakan.

Beberapa waktu kemudian orang tua saya memiliki kisah pertobatan mereka sendiri ketika saya masih di sekolah dasar dan kami mulai menghadiri ibadah Gereja. Sejak saat itu, Firman-Nya menjadi bagian dari hidup saya. Saya tahu Kitab Suci dan semua tentang Yesus. Saya bahkan secara pribadi mengalami bagaimana nama-Nya menjadi benteng yang kuat; di saat-saat penindasan spiritual sebagai seorang gadis muda saya dapat menyanyikan lagu Kristen atau menyebut nama Yesus dan mendapatkan kelegaan.

Namun ketika saya memasuki masa remaja saya, semakin jelas bahwa ada dua pilihan jalan — yaitu jalan dunia ATAU jalan Kristus. Saya bingung dan bimbang selama beberapa tahun, tetapi ketika saya lulus sekolah menengah, saya secara pasti memilih cara dunia dan menjalani kehidupan dengan cara saya sendiri. Di awal-awal saya pikir saya telah membuat pilihan yang bagus. Saya merasa berkembang dengan kebebasan yang baru dan melakukan apapun yang saya inginkan.

Saat ini jika Anda bertanya kepada saya, apakah saya masih seorang Kristen? maka saya akan sangat tersinggung dengan pertanyaan itu dan menjawab bahwa saya masih seorang Kristen. Bahkan masih seorang Kristen sejati yang telah dilahirkan kembali, tidak seperti mereka yang hanya kristen KTP.

Saya tahu apa itu Kekristenan yang sejati. Saya bisa mengutip Roma 3 : 23Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah — tetapi saya benar-benar tidak menganggap diri saya sebagai orang berdosa. Saya adalah orang yang cukup baik, bersikap baik kepada orang-orang dan bahkan pada kesempatan tertentu mungkin menjadi sukarelawan atau menyumbang atau apapun.

Saya juga tidak bisa melihat pertentangan dalam hidup saya sehingga pergi ke Gereja secara rutin. Saya ingat suatu hari, saya berbahasa kasar ke semua orang dan minum alkohol sangat banyak, lalu memberi tahu bahwa saya bermaksud untuk pergi ke Gereja pada hari minggu berikutnya. Saat itu saya lihat keraguan mereka, “Apa… Kamu? Pergi ke Gereja?”

Dan saya sangat marah dan menjawab, “Ya. Apa masalahmu? Mengapa kamu terkejut saya pergi ke gereja? ” Saya benar-benar tersinggung. Saya masih orang baik!

Masuki serangkaian peristiwa campur tangan Tuhan yang membawa rasa sakit yang hebat, kebingungan dan trauma tetapi saya melihat DIA sangat penuh kasih. Saya akhirnya hamil, pada saat itu saya masih tidak berpaling kepada Tuhan. Tetapi dalam belas kasihan-Nya saya melepaskan diri dari minuman keras karena saya tidak ingin menyakiti anak saya.

Beberapa tahun kemudian, saya berusaha mencari penerimaan, dan kemudian bertemu dan menikah dengan seorang pria yang dengan sungguh suka dengan saya dan selalu memberi pujian, kasih sayang, dan perhatian yang besar (saat kami berpacaran). Kupikir dia pasti sangat mencintaiku.

Kemudian yang membuat saya bingung dan terkejut, dia langsung menolak saya setelah kami menikah. Kasus Perselingkuhan yang dia lakukan selalu hadir sepanjang pernikahan kami dan kasih sayang yang baik terhadap anak saya saat kami berpacaran berubah menjadi kekejaman.

Sulit untuk menggambarkan penderitaan emosional yang intens yang saya alami selama tahun-tahun itu — sungguh tidak mengerti mengapa suami tidak lagi mencintai saya dan semua yang saya lakukan untuk mencoba menghidupkan kembali kasih sayangnya, pujiannya , dan mengembalikan pernikahan kami hanya sia-sia tidak merubah apapun.

Saya juga tidak dapat memahami mengapa dua pria yang saya cintai di dunia ini (suami dan anak saya) memiliki hubungan yang sangat tidak harmonis. Mengapa suami saya menolak anak laki-laki kecil yang tampak dia cintai.

Semakin menambah kebingungan dan kepedihan saya adalah klaim suami yang mengatakan bahwa kami memiliki pernikahan dan kehidupan rumah tangga yang indah, dan penyangkalan yang tegas atas perselingkuhan meskipun ada bukti yang muncul dari waktu ke waktu. Dia menyatakan bahwa itu semua adalah cara pandang dan ketakutan saya yang salah.

Dia mengatakan bahwa saya salah memahami hubungan sosial dia dengan orang lain (wanita) dan bahwa saya tidak dapat menerima karena trauma masa lalu. Jika saya terus-menerus meminta jawaban atas persoalan itu, berarti saya benar-benar memaksanya untuk selingkuh. Jadi saya berusaha lebih keras untuk menjadi seperti istri yang dia inginkan. Saya juga merasa sedih untuk anak saya dan tidak dapat menemukan penghibur hati.

Butuh waktu lama untuk menjelaskan semua cara Tuhan yang luar biasa, tetapi beberapa tahun kemudian sampai pada titik yang membawa saya pada suatu malam di ruang tamu kami di mana emosi dihabiskan, tidak dapat berbuat apa-apa lagi, sampai saya muntah lalu mengatakan kepada Tuhan; Baiklah, saya akan hidup dengan cara-Nya, bukan cara saya.

Pada saat yang sama saya menyadari (mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup) bahwa saya sebenarnya adalah orang berdosa. Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa ketidak-setiaan saya kepada-Nya sama buruknya dengan ketidak-setiaan suami saya kepada saya. Itu sangat-sangat sulit diterima, tapi benar. Saya menyadari bahwa kepahitan dan sikap tidak mengampuni adalah dosa dan saya ingin melepaskannya.

Saya mulai dipenuhi dengan cinta yang tidak bisa saya jelaskan. Alih-alih mengutuk pelan ketika suamiku melakukan sesuatu yang jahat, aku mulai berdoa untuknya, memohon kepada Tuhan untuk memberkatinya. Semuanya menjadi… baru.

Saya merasa seperti baru saja dilahirkan kembali (puji Tuhan)! Tuhan segera mengambil hal-hal yang bahkan tidak saya sadari yaitu perilaku yang bermasalah dan saya mulai lapar dan haus akan firman Tuhan.

Sekarang inilah hidup saya yang sebenarnya, bukan dongeng atau film Hollywood. Kemudian suami tidak pernah sadar, tidak berhenti menipu dan memohon maaf, dan kami tidak hidup bahagia. Yang ada, keadaan hidup menjadi lebih buruk, akan tapi saya tetap memuji Tuhan karena dalam semua hal ini Dia telah memberi saya jauh, jauh dan jauh lebih baik daripada kesulitan apa pun yang datang.

Setelah pertobatan saya, dua tahun kemudian suami saya pergi dengan cara yang sangat memalukan, kasus perselingkuhan nya bahkan lebih menjadi-jadi daripada yang saya bayangkan. Dia tidak pernah berniat menunjukkan kebaikan dalam perceraian atau di tahun-tahun berikutnya.

Tetapi saya memberi kesaksian kepada Anda tanpa ragu-ragu bahwa mereka yang berharap kepada Tuhan tidak akan pernah kecewa (Yesaya 49), bahwa Tuhan adalah Batu dan Menara yang Kuat, bahwa Dia adalah suami bagi wanita yang suaminya di masa mudanya telah menolaknya. (Yesaya 54), seorang ayah dari anak yatim dan bahwa Dia menyelamatkan semua yang tertindas (Mazmur 103).

Picture of Post oleh: 3G.Mnz

Post oleh: 3G.Mnz

Tim Media GKKA Indonesia Jemaat Sendawar

Disclaimer:
Beberapa bagian isi artikel di situs ini mungkin saja berasal dari berbagai sumber terbuka di internet, hak cipta sepenuhnya dimiliki oleh pemilik aslinya. Proses keberatan silahkan hubungi kami untuk penghapusan atau atribusi yang sesuai.

Kolom Komentar!

Berkomentar sesuai Pedoman Kami

Artikel Terbaru

Menemukan Sauh di Tengah Badai, Alarm Kuat untuk Berdiri Teguh

Dunia berguncang oleh perang, krisis, dan bencana. Ini adalah “alarm rohani” untuk berhenti mengandalkan dunia dan kembali pada Kristus. Saatnya koreksi diri: jangan biarkan cemas menenggelamkan iman. Bangkitlah, angkat mukamu, dan jadilah terang di tengah badai. Harapan sejati hanya ada dalam Tuhan

Pancasila dan Iman Kristen, Menjalin Harmoni dalam Keberagaman

Pancasila dan Iman Kristen memiliki titik temu dalam nilai universal. Sila-silanya selaras dengan ajaran kasih, keadilan, dan persatuan dalam Alkitab. Semangat pancasila diperkuat oleh konsep Tubuh Kristus yang berbeda tapi satu. Kita dipanggil menjadi garam & terang, mewujudkan harmoni di Indonesia

Kenaikan Yesus Kristus – Janji, Kuasa, dan Harapan

Hari Kenaikan Yesus Kristus adalah salah satu momen penting dalam kalender kekristenan. Ini bukan hanya sebuah peristiwa sejarah yang mengisahkan bagaimana Yesus terangkat ke surga 40 hari setelah kebangkitan-Nya, melainkan juga menjadi tanda penggenapan janji, pernyataan kuasa, dan peneguhan pengharapan bagi umat percaya di sepanjang zaman.

Kenaikan Yesus Kristus Merupakan Mahkota Harapan dan Kuasa Roh

Kisah Kenaikan Yesus Kristus tercatat jelas di Alkitab. Peristiwa ini bukan akhir, melainkan awal kuasa Roh Kudus, pemuliaan Yesus sebagai Imam Besar kita, dan jaminan kedatangan-Nya kembali. Renungan ini akan mengajak kita merenungkan bagaimana Kenaikan Yesus relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Buat tulisan Anda sendiri seperti Artikel, Kesaksian, Renungan Rohani, Khotbah, Berita dan lain sebagainya.

“Karena kamu menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan selalu abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”.
— Pramoedya Ananta Toer
Menulis
Pilih dan Bagikan Pengalamanmu
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email