Menu Tutup
Perkataan yang Membangun Persatuan
Setiap ucapan yang keluar dari mulut kita memiliki kuasa untuk menghidupkan atau menghancurkan. Berdasarkan Amsal 10:11, perkataan orang benar harus menjadi sumber kehidupan yang membawa kedamaian. Mari jaga lidah kita agar selalu memperkatakan kebenaran yang mempersatukan, bukan perpecahan.

Amsal 10:11 (TB) “Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman.”

Amsal 10:11–21 banyak berbicara tentang kekuatan perkataan. Firman Tuhan mengingatkan bahwa mulut dapat menjadi sumber kehidupan, tetapi juga dapat membawa pertengkaran dan kehancuran.

Karena itu, cara kita berbicara menunjukkan hikmat dan karakter yang ada di dalam hati.

Pesan ini sangat relevan ketika kita memperingati Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober. Pada tahun 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang memilih untuk menyatukan diri dalam satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Bahasa menjadi salah satu kekuatan yang menyatukan keberagaman bangsa Indonesia.

Namun persatuan tidak cukup hanya diucapkan. Persatuan juga harus terlihat dalam cara kita memperlakukan dan berbicara kepada sesama. Amsal 10:12 berkata bahwa kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.

Hari ini, perkataan kita memiliki jangkauan yang semakin luas. Apa yang kita ucapkan secara langsung maupun yang kita tuliskan di media sosial dapat membangun semangat, tetapi juga dapat melukai, memecah belah, dan menimbulkan konflik.

Karena itu, sebagai orang percaya sekaligus bagian dari bangsa Indonesia, kita dipanggil untuk menggunakan perkataan dengan bijaksana.

Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan. Kita dapat berbeda suku, budaya, kebiasaan, bahkan pendapat, tetapi tetap belajar hidup dalam kasih dan saling menghormati.

Hari ini, mari kita bertanya: apakah perkataan kita menjadi sumber kehidupan atau justru sumber pertengkaran?

Jadilah generasi yang menjaga persatuan melalui perkataan yang benar, bijaksana, dan penuh kasih. Sebab membangun bangsa dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: bagaimana kita menggunakan kata-kata untuk menguatkan, bukan menjatuhkan; menyatukan, bukan memecah belah.

“Perkataan yang membangun lahir dari kehidupan batin yang terus dibentuk oleh Kristus; karena itu perubahan hati harus mendahului perubahan ucapan.” — Watchman Nee

Picture of Ev. Sopiana Djadie, S.Th

Ev. Sopiana Djadie, S.Th

Penginjil pada Gereja Kebangunan Kalam Allah Indonesia Jemaat Sendawar.

Disclaimer:
Beberapa bagian isi artikel di situs ini mungkin saja berasal dari berbagai sumber terbuka di internet, hak cipta sepenuhnya dimiliki oleh pemilik aslinya. Proses keberatan silahkan hubungi kami untuk penghapusan atau atribusi yang sesuai.

Kolom Komentar!

Berkomentar sesuai Pedoman Kami

Artikel Terbaru

Berharap kepada Tuhan yang Memulihkan

Ketika kita berseru dalam doa, Tuhan tidak hanya mendengar tetapi juga siap memulihkan dan menyatakan perkara besar. Lewat Yeremia 33:3, Dia mengundang kita untuk datang dengan iman. Di tengah ketidakpastian, percayalah bahwa jawaban-Nya akan menyingkapkan jalan keluar luar biasa yang tak terpahami.

Tetap Setia sampai Garis Akhir

Kesetiaan sejati dibuktikan dengan bertahan menuntaskan misi kehidupan bersama Tuhan. Sesuai 2 Timotius 4:7, kita dipanggil untuk menyelesaikan pertandingan iman dengan tangguh hingga garis akhir. Jangan menyerah di tengah jalan; tetaplah memelihara iman dan integritas di dalam setiap prosesnya.

Memilih Hikmat dalam Setiap Langkah

Menemukan hikmat Tuhan berarti menemukan esensi kehidupan dan perkenanan-Nya. Berdasarkan Amsal 8:35, setiap keputusan yang diambil dengan hikmat akan menuntun kita pada jalan yang benar dan mendatangkan berkat. Mintalah selalu tuntunan-Nya agar setiap langkah kita selaras dengan kehendak Allah.

Memuliakan Tuhan dalam Setiap Keadaan

Pujian kepada Tuhan tidak boleh terhenti oleh situasi, melainkan harus terus dinaikkan setiap hari. Mazmur 96:2 mengajak kita untuk konsisten memuji nama-Nya dan giat membagikan kabar keselamatan. Saat kita bersaksi melalui perkataan dan perbuatan, kita sedang memuliakan Allah di setiap keadaan.

Tuhan Mampu Memakai Masa Sulit untuk Membentuk Kita

Masa-masa sulit sering kali menjadi alat di tangan Tuhan membentuk karakter kita. Yeremia 24:7, Dia berjanji memberikan hati yang baru untuk mengenal-Nya lebih lagi. Ujian hidup bukanlah tanda penolakan, tetapi cara Dia membawa kita kembali bertobat dengan segenap hati menjadi umat kesayangan-Nya.

Buat tulisan Anda sendiri seperti Artikel, Kesaksian, Renungan Rohani, Khotbah, Berita dan lain sebagainya.

“Karena kamu menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan selalu abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari”.
— Pramoedya Ananta Toer
Menulis
Pilih dan Bagikan Pengalamanmu
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email

Pencarian

Baca Artikel Terbaru