Yeremia 14:22 (TB) “Bukankah Engkau saja, ya TUHAN, Allah kami, yang membuat semuanya itu? Kami menanti-nantikan Engkau, sebab Engkaulah yang membuat semuanya itu.”
Yeremia 14 menggambarkan keadaan Yehuda yang sedang mengalami kekeringan hebat. Tanah menjadi kering, sumber air habis, manusia dan hewan sama-sama mengalami kesusahan.
Keadaan ini bukan hanya masalah alam, tetapi juga menjadi gambaran tentang kondisi rohani bangsa yang telah jauh dari Tuhan.
Di tengah penderitaan itu, Yeremia datang kepada Tuhan dengan doa dan pengakuan. Ia tidak menutupi kesalahan bangsanya. Ia mengakui bahwa dosa dan ketidaktaatan telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Namun di tengah keadaan yang berat, Yeremia tetap memilih datang kepada Tuhan.
Dari bagian ini kita belajar bahwa masa sulit seharusnya tidak membuat kita menjauh dari Tuhan. Justru ketika kekuatan kita terbatas, kita semakin perlu menyadari bahwa pertolongan sejati berasal dari-Nya.
Kadang kita ingin Tuhan segera mengubah keadaan, tetapi Yeremia 14 menunjukkan bahwa Tuhan juga ingin hati umat-Nya berubah. Tuhan tidak hanya melihat masalah di luar diri kita, tetapi juga sikap hati, ketaatan, dan kesungguhan kita dalam mencari-Nya.
Firman ini juga mengingatkan kita untuk tidak mencari penghiburan yang palsu. Pada masa Yeremia, ada orang-orang yang menyampaikan harapan seolah-olah semuanya baik-baik saja, padahal bangsa itu belum sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan.
Pengharapan yang benar bukanlah menutup mata terhadap masalah, tetapi tetap percaya kepada Tuhan sambil bersedia memperbaiki hidup.
Mungkin hari ini kita sedang menghadapi keadaan yang sulit, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau sesuatu yang belum menemukan jalan keluar. Jangan hanya bertanya kapan keadaan akan berubah. Tanyakan juga apa yang Tuhan ingin bentuk dalam diri kita melalui keadaan tersebut.
Tetaplah datang kepada Tuhan, akui kelemahan kita, perbaiki apa yang harus diperbaiki, dan nantikan Dia dengan iman. Sebab di tengah keadaan yang paling kering sekalipun, Tuhan tetap menjadi sumber pengharapan kita.
“Kesulitan dapat menjadi sekolah iman ketika kita belajar mencari Tuhan lebih sungguh-sungguh daripada sebelumnya.” — John Wesley





